Breaking News

Menu

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Agustus 2011

Hikmah Silaturrahim



''Barangsiapa yang ingin dimudahkan rezeki dan dipanjangkan usianya hendaklah ia senantiasa menjaga silaturahim.'' (HR Muslim, dari Anas bin Malik RA).

Tak ada yang mampu menghindar dari masalah selama menjalani kehidupan di dunia. Bahkan, tantangan hidup dari hari ke hari terasa kian kompleks. Rasul dan orang-orang beriman di masa lalu pun pernah hampir putus asa ketika menerima cobaan yang demikian berat dari Allah SWT.

Dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 214 disebutkan, ''Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang padamu cobaan sebagaimana halnya orang-orang terdahulu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta diguncangkan dengan bermacam-macam cobaan, sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, ''Bilakah datangnya pertolongan Allah?''

Mengapa ada yang mampu mengatasi masalah yang dihadapinya dan ada yang tidak? Kuncinya sebenarnya adalah silaturahim. Tentu, tak hanya sekadar mendatangi saudara, kerabat, atau kenalan dengan pertemuan yang penuh basa-basi. Namun, pertemuan itu untuk mengukuhkan persaudaraan dan untuk selalu berbagi pengalaman; bercerita, dan mendengarkan.

Dengan berbagi, kita menjadi tahu betapapun beratnya masalah yang kita hadapi, sesungguhnya kita tidaklah sendiri. Orang lain juga menghadapi masalah yang sama, bahkan mungkin lebih berat dengan bentuk yang berbeda. Jika sudah demikian, kita akan bisa lebih tegar menghadapi masalah, dan saling menguatkan. Semangat hidup pun tumbuh kembali.

Tidak keliru bila dalam hadis di atas Rasulullah SAW sangat menganjurkan silaturahim, yang hikmahnya antara lain akan membuat kita jadi panjang umur. Kalau saja tidak rajin silaturahim, dengan sedikit masalah saja akan membuat kita lekas putus asa. Hidup tanpa harapan atau malah mengakhiri hidup secara tragis.

Namun dengan memperbanyak silaturahim, masalah apa pun yang menimpa, bisa kita hadapi dengan ketegaran. Kita bisa saling mengingatkan untuk tidak berputus asa, sebagaimana bunyi akhir ayat 214 surat Al-Baqarah, ''.... Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.'' Wallahu a'lam bish-shawab.

10 Keutamaan SENYUM


Senyum mungkin bagi kita adalah hal yang sederhana dan mudah, cukup menarik sudut bibir ke arah samping dan menampakkan gigi. Namun tidak sesederhana itu, kadang tersenyum saat-saat tertentu sangatlah sulit. Terlebih jika kita tidak “mood” untuk tersenyum.Senyum mempunyai hubungan erat dengan karakter seseorang, karena tidak sedikit ditemukan sifat individu yang “murah senyum”. Senyum banyak dikaitkan dengan perasaan hati, kondisi jiwa dan mood. Senyum dapat mempengaruhi kesehatan, tingkat stres dan daya tarik kita. Senyum juga dipercaya sebagai salah satu jalan jika ingin awet muda. Senyum diketahui mempunyai manfaat untuk kesehatan, di antaranya yaitu :

1. Senyum membuat kita lebih menarik. Kita akan selalu tertarik pada orang yang selalu tersenyum. Orang yang selalu tersenyum punya daya tarik tersendiri. Wajah yang berkerut, cemberut, membuat orang menjauh dari kita , tetapi sebaliknya senyum bisa membuat mereka tertarik.
2. Senyum mengubah mood kita. Ketika kita merasa jatuh atau “down” cobalah untuk tersenyum. Mungkin saja mood kita akan berubah menjadi lebih baik.
3. Senyum dapat merangsang orang lain tersenyum. Ketika seseorang tersenyum maka senyum tersebut akan membuat suasana menjadi lebih cerah, mengubah mood orang lain yang ada disekitarnya dan membuat semua orang menjadi senang. Orang yang suka tersenyum membawa kebahagiaan buat orang yang ada di sekitarnya. Seringlah tersenyum maka anda akan disukai oleh banyak orang.
4. Senyum dapat mengurangi stres. Stres secara nyata dapat muncul di wajah anda. Senyum membantu mencegah kesan bahwa kita sebenarnya sedang lelah atau merasa “down”. Jika anda sedang stres cobalah untuk tersenyum, maka stres anda akan berkurang dan anda akan merasa lebih baik untuk membuat langkah selanjutnya.
5. Senyum meningkatkan sistem imun (kekebalan) tubuh anda. Senyum dapat membantu kerja imun tubuh agar dapat bekerja dengan baik. Ketika anda tersenyum, fungsi imun meningkatkan kemungkinan anda menjadi lebih rileks.
6. Senyum menurunkan tekanan darah anda. Ketika anda tersenyum, maka tekanan darah anda akan menurun. Jika anda tak percaya, anda boleh mencobanya sendiri, jika anda memiliki alat pengukur tekanan darah di rumah anda.
7. Senyum mengeluarkan endorphins (pereda rasa sakit secara alami) dan serotonin. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa senyum dapat merangsang pengeluaran endorphin, pereda rasa sakit yang alami, serta serotonin. Senyum memang obat yang alami.
8. Senyum dapat melenturkan kulit wajah dan membuat anda terlihat lebih muda. Otot-otot yang digunakan untuk tersenyum ikut membuat anda terlihat lebih muda. Jika anda ingin sesuatu yang beda, maka berikan senyum anda sepanjang hari, maka anda akan terlihat lebih muda dan merasa lebih baik.
9. Senyum membuat anda tampak sukses. Orang yang tersenyum terlihat lebih percaya diri dalam menjalani hidupnya. Cobalah tersenyum saat anda melakukan pertemuan dan saat ada janji. Rekan-rekan kerja, sahabat, orang-orang terdekat anda akan merasakan sesuatu yang berbeda.
10. Senyum membuat anda tetap positif. Senyumlah! Lalu sekarang cobalah berpikir sesuatu yang negatif tanpa berhenti tersenyum. Sulitkan? Karena ketika anda tersenyum maka senyum tersebut akan mengirimkan sinyal ke tubuh anda bahwa “hidup anda saat ini baik-baik saja”.

Maka jauhkan diri anda dari depresi, stres dan rasa khawatir dengan satu kata yaitu “senyum”, tentu saja dengan memberikan senyum pada tempat dan suasana yang tepat. Jika berlebihan, maka orang lain akan menganggap anda kurang waras. Satu hal lagi karena dengan tersenyum anda mendapatkan satu nilai shadaqah.Sudahkan anda tersenyum hari ini?

Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua

Birru Al-Walidain
a.    Pembinaan Pribadi yang Baik (Birr)
Untuk mengurai secara detail dan komprehensif dalam menelusuri suatu makna dari suatu kata Arab, terdapat beberapa tahapan penelusuran, yakni (1) Penelusuran melalui kamus, standar baku kamus yang digunakan adalah seperti kamus Lisanul Arab karya Ibnu Mandzur al-Afriqy, (2) Perspektif para Mufassir dan para ahli yang menjelaskan makna kata yang sedang ditelusuri, (3) Aplikasi kata pada makna.
Tahapan inilah yang menjadi langkah peneliti dalam menelusuri makna yang terdapat pada Ayat 8-9 Surat Al-Mumtahanah.
1)    Kata “برّ ” menurutkamusLisanul ‘Arab
Kata “برّ ” memiliki susunan tashrif: “بَرَّيَبَرُّويَبِرُّبَرّاًوبِرّاًوبُرُوراً وَبَرَّةً”
Kata "  البَرّ " (dibaca fathah ba’nya) dan kata “بِرّ ” (dibaca kasrah ba’nya) bentuk pluralnya adalah "  الأَبْرارُ". Adapun kata " البارّ " bentuk pluralnya adalah " البَرَرَةُ ".
Kata “برّ ” memiliki beberapa makna:
a)    الصِّدْقُ والطاعة/ jujur dan taat,
b)    الصلاح/ kebagusan
c)    الخير / baik dan bagus
d)    التُّقى/ ketakwaan
e)    كلُّماتقرّببهإِلىاللهعزوجلمنعملخير/ segala amal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah dari perbuatan yang baik.
f)    Suatu kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat.Kebaikan di dunia yaitu apapun yang dimudahkan oleh Allah berupa hidayah, nikmat, berbagai kebaikan. Adapun kebaikan di akhirat adalah keberuntungan mendapatkan kenikmatan kekal di surga dan mendapatkan kemuliaan serta rahmat-Nya.
g)    Taat dan ibadah.
h)    Allah yang Maha melimpahkan kebaikan.
i)    Menerima
j)    Kata ini “برّ ” ketika terkait dengan haji maka maknanya adalah kebaikan yang tidak tercampur dengan dosa (murni), adapun ketika dikaitkan dengan transaksi jual beli maka artinya adalah tidak ada subhat, tidak ada dusta dan tidak ada penghianatan di dalamnya.
k)    Kata “برّ ” / berbuat baik,antonim dari kata “ العُقُوقُ” / menyakiti.
l)    Kata Birr berarti Al-Lutfu, yakni halus dan lembut
m)    Melakukan segala kebaikan apapun bentuknya
n)    Kata Birr berarti Al-Ikram yang artinya memuliakan
o)    Kata Birr berarti Al-Fu’ad yang artinya hati, dikatakan “مطمئن البر” hatinya tenang .
Dari uraian beberapa makna “برّ ” di atas, dapat disimpulkan maknanya yaitu berbuat ihsan yang diwujudkan dengan perlakukan yang penuh rasa santun dan kasih sayang dengan dilandasi ketakwaan dan kejujuran.
Adapun kata Barr (ba’ dibaca fathah / البَرّ) artinya darat, kata ini merupakan antonim dari kata “ البَحْرُ” yang artinya laut. Bermula dari kata ini, kemudian muncul makna luas sebagai sifat dari laut, yakni luas dalam melaksanakan kebaikan.
    Kata “ البَرّ” ketika dinisbatkan kepada Allah SWT artinya yaitu yang Maha melimpahkan kebaikan. Hal ini seperti Firman Allahdalam Surat At-Tur ayat 28           “إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ ” / Sesungguhnya Dia-lah yang Maha melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang. Sedangkan ketika dinisbatkan kepada hamba, maka artinya adalah keluasan dalam berbakti atau taat . Kata Barr ini terkait dengan makna kebaikan, disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 3 x .
Dari hasil penelusuran ini, dapat disimpulkan bahwa kewajiban seorang Muslim terhadap orang-orang yang tidak memerangi dan juga tidak berusaha mengeluarkan dari negeri mereka yaitu; melaksanakan Birr dan Khair,berbuat Ihsan, memberikan perlindungan di bawah bendera-Nya yang mulia dan bertransaksi, bergaul dengan baik dan memuliakan (menghormati) mereka, jujur dan taat kepada Allah SWT, tetap menjaga ketakwaan yang dimanifestasikan dengan segala perbuatan yang baik dan bisa mendekatkan diri kepada Allah.
Suatu kata akan mengalami perbedaan makna sesuai dengan tuntutan konteksnya. Oleh karena itu peneliti berusaha mengaplikasikan kata Birr ini dalam konteks yang berbeda-beda dan menuntuk adanya perbedaan makna pula. Adapun rincian beberapa konteks dari kata Birr ini yaitu:  
2)    Aplikasi Kata Pada Makna
a)    Birr dan Berbakti Kepada Orang Tua
    Menurut Wahbah Az-Zuhaily, ketika kata Birr terkait dengan kedua orang tua, maka artinya adalah (كثيرالبر والإحسان إليهما) yakni memperbanyak berbuat Birr dan berbuat Ihsan . Maksudnya adalah meningkatkan sikap baik dan taat kepada kedua orang tua, tidak menyakitinya baik melalui ucapan maupun perbuatan, menyuruh maupun melarangnya, namun betul-betul murni taat kepada Allah SWT dan taat kepada kedua orang tuanya . Pengertian ini sering diistilahkan dengan berbakti kepada kedua orang tua, sebagaimana tersirat dari Firman Allah SWT dalam Surat Maryam: 14
وَبَرًّابِوَالِدَيْهِوَلَمْيَكُنْجَبَّارًاعَصِيًّا
Artinya: “dan sangat berbakti kepada kedua orang tuanya, dan dia bukan orang yang sombong(bukan pula) durhaka” .

Firman Allah SWT dalam Surat Maryam: 32
وَبَرًّابِوَالِدَتِيوَلَمْيَجْعَلْنِيجَبَّارًاشَقِيًّا
Artinya: “dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka” .


Firman AllahSWT dalam surat:Al-An’am:151


قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
151. Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu Yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan, Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka, dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar[518]". demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu semua berfikir(Qs:Al-An’am;151)




Firman Allah SWT dalam surat:Al-Ankabut:8

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
 dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya. dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya. hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(Al-Ankabut:8
Firman Allah SWT dalam surat;Al-Luqman:14
•
 dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu(Qs:Al-Luqman:14)
Berbuat baik kepada kedua orang tua tidak hanya berbuat baik dalam segi bicara dan perilaku saja tapi bisa dengan do’a sebagai mana yang di terangkan Allah dalam firmannya sebagai berikut

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِين
Maka dia(Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdo’a,” Ya Tuhanku, anugrahilahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugrahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan ke bajikan yang engkau ridhai: Dan masukkanlah aku dengan rahmat Mu ke dalam golongan hamba-hamba Mu yang saleh(Qs Annamel:19)
رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ
. Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)".(Qs:Ibrahim:41
وَالَّذِي قَالَ لِوَالِدَيْهِ أُفٍّ لَكُمَا أَتَعِدَانِنِي أَنْ أُخْرَجَ وَقَدْ خَلَتِ الْقُرُونُ مِنْ قَبْلِي وَهُمَا يَسْتَغِيثَانِ اللَّهَ وَيْلَكَ آَمِنْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَيَقُولُ مَا هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ
 dan orang yang berkata kepada dua orang ibu bapaknya: "Cis bagi kamu keduanya, Apakah kamu keduanya memperingatkan kepadaku bahwa aku akan dibangkitkan, Padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku? lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya mengatakan: "Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar". lalu Dia berkata: "Ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu belaka"(Qs:Al-Ahqaf:17)
Periode Madinah
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia(Qs:Isra’:23)

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ
 dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.(Qs:Al-Baqarah:83)
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
 sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh[294], dan teman sejawat, Ibnu sabil[295] dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (Qs:Annisa’:36)
Ayat-Ayat di atas menegaskan bahwa ibadah yang paling agung setelah mengagungkan Allah adalah mengagungkan kepada kedua orang tua, Allah secara langsung memposisikan ketaatan kepada kedua orang tua setelah ketataan kepada-Nya . Hal ini menunjukkan betapa pentingnya seorang anak memperhatikan hak-hak yang harus diberikan kepada kedua oang tua.


Dalam priode Madinah ini Allah menerangkan tentang tingginya drajat kedua orang   tua di banding dengan yang lainnya terbukti dari sekian banyak ayat yang menerangkan berbuat baik kepada kedua orang tua di sebut setelah Allah merentahkan mengembah kepada lalu Allah memerentah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua.


Senin, 29 Agustus 2011

Muslim Yang Paling Utama





عَنْ أَبِيْ مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ ، قَالُوْا ياَ رَسُوْلَ اللهِ أَيُّ اْلِإسْلاَمِ أَفْضَلُ ؟ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
( صحيح البخاري )
Para sahabat bertanya kepada Rasulullah, "Muslim manakah yang paling utama ?" Maka Rasulullah sahallallahu 'alaihi wasallam menjawab : " seseorang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari lidah dan tangannya " ( Shahih Al Bukhari )


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ واَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجمَعِ اْلعَظِيْمِ وَفِيْ هذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ...
Limpahan puji ke hadirat Allah subhanahu wata'ala Yang Maha Luhur , Maha membangun kerajaan alam semesta , cahaya keindahan yang menerbitkan kebahagiaan yang fana dan kebahagiaan yang kekal , cahaya tunggal yang menerbitkan segala keindahan yang ada di alam semesta , cahaya kenikmatan sumber dari segala kenikmatan berpadu seluruh keluhuran pada keagungan nama Allah , dan terbukalah rahasia keindahan Ilahi dan semerbak keagungan-Nya , dengan keagungan " Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah " , terbuka semerbak keagungan Rabbul 'Alamin dan cahaya kecintaan dan kasih sayang-Nya dengan kalimat " Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah " , itulah gerbang keluhuran yang pertama , yang jika seseorang memasukinya maka ia telah berada dalam koridor muslimin dan berada dalam cahaya rahmat Ilahi siang dan malam tinggallah ia berusaha menuju dan mendekat ke hadirat Allah sepanjang waktu dalam hidupnya , hidup yang berada diantara alam rahimnya dan alam barzakhnya yaitu alam kehidupan dunia .
Alam kehidupan dunia yang diawali dari air mani dan diakhiri dengan bangkai , itulah awal kita . Awal kita adalah air mani dan akhirnya adalah bangkai lalu apa diantara keduanya ? apakah tetap di dalam kehinaan hawa nafsu atau bangkai atau di dalam keluhuran dan kemuliaan ? . Bisa terbuka cahaya keluhuran Ilahi di dalam kehidupan ini , namun jangan biarkan kita terus berada dalam kehinaan . Hingga hadirlah kita di malam mulia ini , di majelis agung ini dengan harapan hal ini bisa menjadi pembuka bagi tabir-tabir yang menutup kita menuju keluhuran , kebahagian , kedamaian , dan semoga dengan kehadiran kita di malam mulia ini juga Allah tutupi segala musibah dan semua hal yang menghalangi kita , dan kesulitan yang akan datang pada kita di dunia dan akhirah , Amin Ya Rabbal 'Alamin .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Tidak terlewat satu detik pun terkecuali bumi telah menyaksikan jasad seorang pendosa telah dipendam ke dalamnya . Tidak satu detik pun terkecuali bumi menyaksikan bayi yang baru terlahir ke muka bumi . Demikian kehidupan terbit dan terbenamnya matahari , kelahiran dan kematian terus bergulir . Berputar antara kematian orang yang shalih , maka ia mengawali kematiannya dengan keluhuran yang kekal , namun kematian orang yang fasik maka ia mengawali kematian dengan musibah yang kekal . Dan pemisah dari keduanya ini adalah tuntunan sang Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam , beruntung mereka yang berada dalam tuntunan sang Nabi , berada dalam kecintaan kepada sang Nabi dan kecintaan kepada Allah subhanahu wata'ala tentunya , maka ia berada dalam keberuntungan yang kekal . Dijelaskan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa ketika jasad dibaringkan ke dalam lahatnya dan ketika ruh ditinggal sendiri oleh para kerabat yang telah menguburkan , ruh itu masih mendengar hentakan kaki orang-orang yang meninggalkan kuburnya , kemudian ruh itu bertemu dengan dua malaikat yang menanyakannya :
مَا عِلْمُكَ بِمُحَمَّدٍ ؟
" Apa pengetahuanmu tentang Muhammad ?" Maksudnya , pengetahuan dia tentang Muhammad sampai dimana ? demikian riwayat Shahih Al Bukhari . Kalau ia menjawab : " Aku beriman kepadanya , aku mengikuti ajarannya dan aku mencintainya " , maka malaikat berkata : " Tidurlah dengan tenang wahai orang shalih , kami sekarang mengetahui bahwa engkau adalah orang yang beriman " . Tetapi orang yang tidak beriman ketika ditanya oleh malaikat : " Siapa Muhammad " ? , maka ia akan menjawab : " aku tidak tau siapa nabi Muhammad " , karena selama di muka bumi ia selalu berpaling dari majelis-majelis nabi Muhammad , selalu berpaling dari masjid , selalu menjauh dari majelis ta'lim , selalu menghindar dari majelis zikir , selalu menjauh dari hal-hal yang mulia dan selalu ingin pada hal yang hina , maka disaat itu ia tidak mengenal dengan sang pembawa kemuliaan . Maka ketika ia ditanya oleh malaikat ia berkata : " Laa adrii " ( aku tidak tahu ) , maka ia akan mendapatkan musibah yang kekal di dalam kuburnya sampai hari kiamat ( wal 'iyaadzubillah ) .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sampailah kita pada hadits agung ini , dijelaskan oleh Abu Musa Al Asy'ari bahwa ia mendengar para sahabat bertanya kepada Rasulullah :
أَيُّ اْلإِسْلاَم أَفْضَلُ ؟
Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Baari bisyarh Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini , yang dimaksud adalah :
أَيُّ الْمُسْلِمِيْنَ أَفْضَلُ
" Muslim yang mana yang paling utama "
Karena Al Imam Ibn Hajar mengkaitkan dengan beberapa riwayat Shahih Muslim dan lainnya bahwa hadits ini juga teriwayatkan dengan shighah :
أَيُّ الْمُسْلِمِيْنَ أَفْضَلُ
" Muslim manakah yang paling utama ? " Maka Rasulullah sahallallahu 'alaihi wasallam menjawab :
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
" seseorang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari lidah dan tangannya "
Seorang muslim dilihat kadar kebaikannya adalah dengan selamatnya orang lain sebab ucapan dan tangannya . Muslim yang lain tidak terganggu dengan tangan atau lidahnya , tangan bisa mengganggu dengan memukul , menyebar fitnah dengan sms hal itu juga termasuk mengganggu dengan tangan , bisa juga dengan ucapan fitnah dan lain sebagainya . Muslim lain tidak terganggu sebab ucapannya dan tangannya , ini adalah derajat terendah . Namun yang dimaksud dalam hadits ini demikian luas maknanya yang dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar . Maksudnya adalah , orang muslim lain selamat sebab lidah dan tangannya , bisa dengan doa karena ia mendoakan muslim lainnya dan ia mengangkat kedua tangannya bermunajat kepada Allah untuk muslimin lainnya , maka Allah selamatkan muslim lainnya dengan doanya , maka ini juga termasuk ke dalam hadits ini , inilah afdhaliyah seorang muslim .
Semakin mulia seorang muslim maka semakin banyak ia memberi manfaat untuk orang-orang muslim lainnya . Siapa yang paling banyak menyelamatkan muslim lainnya ? dialah sayyidina Muhammad shallallahu 'laihi wasallam . Hadits ini sungguh memendam rahasia makna bahwa orang-orang yang mulia itu menyelamatkan muslim lainnya menuju keluhuran , baik dengan tangannya walaupun sekedar sms aja , atau dengan ucapan lembut yang menasehati saudaranya , dengan hartanya , dengan langkahnya atau dengan yang lainnya . Semakin ia memberikan manfaat kepada muslim lainnya maka semakin afdhal keislamannya . Hadirin hadirat , kita melihat kalimat hadits ini yang sedemikian ringkas , tetapi ia mencakup hampir seluruh kemuliaan amal ibadah , semakin banyak seseorang beribadah maka semakin banyak memberi manfaat untuk muslimin yang lainnya , diantara ibadah itu ketika dalam shalat kita telah mendoakan muslim yang lainnya dengan ucapan :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ
( الفاتحة : 6-7 )
" Tunjukkan kami jalan yang lurus ( yaitu ) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya , bukan jalan mereka yang Engkau murkai , dan bukan pula jalan mereka yang sesat " . ( QS . Al Fatihah : 6-7 )
itu adalah nafas-nafas doa sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam untuk keturunan Adam yang ada di masa beliau hingga akhir zaman agar diberi hidayah oleh Allah . Seseorang yang mau berdoa dengan niat makna seperti ini maka ia satu cita-cita dan satu perasaan dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam . " Ya Allah , tunjukkan kami ( seluruh keturunan Adam ) ke jalan yang lurus , yang masih dalam kemaksiatan , yang sedang berzina , yang akan berzina , yang mau berjudi , yang sedang berjudi , yang dalam kemunkaran , yang menyembah selain Allah , yang mengakui ada Tuhan selain Allah " , maka semua nama itu terkena doa itu , semua nama itu terkena ucapan itu ketika kita perdalam maknanya . Karena doa itu telah mencakup untuk semua muslimin yang terkena musibah baik itu gempa , kebakaran , kecurian dan segala musibah kesedihan , maka semua itu telah kau doakan agar Allah selamatkan mereka menuju keluhuran . Semua ini adalah cita-cita nabi Muhammad , inilah jiwa nabi Muhammad dan ucapan itu terlafazhkan dalam setiap rakaat shalat kita .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Oleh sebab itu Allah berfirman di dalam hadits qudsy riwayat Shahih Muslim , bahwa ketika seseorang dalam shalatnya mengucapkan :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Maka Allah subhanahu wata'ala menjawab :
هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل
" Ini untuk hamba-Ku , dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta "
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Paling tidak jika kita mendoakan seluruh orang yang terkena musibah , yang dalam kesulitan , yang dalam kesesatan , yang dalam dosa , yang belum mendapat hidayah . Diantara milyaran nama penduduk bumi , ada satu namamu disitu dan nama itu pastilah yang disayangi Allah karena mendoakan milyaran nama lainnya . Hadirin hadirat , jadilah satu nama diantara milyaran nama yang mendoakan milyaran nama-nama tersebut .
Kita bayangkan Allah melihat permukaan bumi di barat dan timur ini , yang disana ada yang tobat , ada yang bermaksiat , ada yang menyembah selain Allah , ada yang masuk Islam , ada yang mencaci , dan ada yang memaafkan , Allah melihat semua itu dan Allah melihat ada satu jiwa yang mendoakan , semuanya didoakan oleh satu orang dengan berkata : " Ya Rabb jadikanlah kami semua dalam kenikmatan , yang dalam kenikmatan tambahkan kenikmatannya , yang belum mendapat hidayah berilah hidayah , yang dalam musibah berikan kemudahan , yang dalam kesesatan berikan hidayah " , satu jiwa mendoakan seluruh nama itu maka yang satu ini dipandang oleh Allah daripada yang lainnya . Maka paling tidak Allah akan memberi untuknya kenikmatan , hidayah dan jauh dari kesesatan karena telah satu perasaan dengan sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Demikian indahnya alam ma'rifah , semakin kita dalami makna kehidupan ini , semakin kita dalami makna ucapan yang yang kita ucapakn maka akan semakin indah hari-hari kita , semakin mulia kehidupan kita . Oleh sebab itu tidaklah mustahil jika orang-orang yang ma'rifah billah itu , yang nampaknya tidak terlalu banyak ibadahnya tetapi derajat mereka terus meningkat demikian cepatnya karena getaran jiwanya . Ketika seseorang mengucapkan Fatihah seribu kali , ia mengucapkannya sekali tetapi dengan makna yang begitu dalam dia rangkum seluruh nama penduduk bumi di dalam doanya , sungguh sangat jauh berbeda , semakin tinggi derajat sanubari dalam tangga-tangga keluhuran Ilahi , maka semakin luhur setiap getaran ucapannya , semakin luhur setiap getaran perasaannya . Inilah indahnya tuntunan nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam yang terus mendoakan ummatnya dengan doa :
اَللّهُمَّ اهْدِ قَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ
" Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku , sesungguhnya mereka tidak mengetahui "
Yang didoakan adalah orang yang memerangi beliau , beliau tidak diam atas musuh-musuh yang memerangi beliau dan membahayakan muslimin beliau tetap membela diri , namun beliau masih ingin musuh-musuh itu masuk Islam , jika tidak mungkin anak-anaknya . Rasulullah lebih sayang kepada musuhnya daripada musuhnya terhadap diri mereka sendiri , Rasulullah fikirkan keturunannya , kalau tidak mereka mungkin anak-anak mereka yang akan masuk Islam . Anak-anak orang yang memerangi beliau , yang mengejar dan melempari beliau , orang-orang yang meludahi beliau . Rasul masih ingin menyelamatkan mereka , kalau tidak mereka maka anak-anaknya yang selamat , demikian indahnya budi pekerti makhluk terindah ciptaan Allah subhanahu wata'ala , sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam . Jika musuh-musuhnya tidak selamat paling tidak anak-anaknya yang selamat , inilah indahnya budi pekerti sang Nabi . Semoga jiwa agung dan luhur seperti ini tersebar luas dalam penduduk bumi di saat ini , maka akan menjadi rahmah bagi alam sekitar , karena keberadaan orang seperti ini yang terus ia di dalam shalatnya mengucapkan :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Dia telah berdoa membawa seluruh nama penduduk bumi , dia sudah membawa doa sang nabi , dia sudah limpahan-limpahan doa untuk seluruh masalah yang ada di seluruh permukaan bumi yang menimpa manusia , baik yang muslim atau yang non muslim . Yang di luar Islam agar dapat hidayah ke dalam Islam , yang dalam keislaman jika ia dalam musibah agar diberi kemudahan , yang dalam kesesatan aqidah supaya diberi petunjuk , yang dalam kenikmatan supaya ditambah kenikmatannya . Demikian indahnya doa surah Al Fatihah , oleh sebab itu ketika di majelis-majelis terus baca surah Alfatihah diulang-ulang , karena maknanya sangat agung dan luhur , hal ini membuka rahasia keluhuran yang membuat kita sangat dekat ke hadirat Rabbul 'alamin subhanahu wa'alaa .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah

Rasul shallallahu 'alihi wasallam bersabada :
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
“Belum sempurna iman kalian sampai aku lebih dicintainya dari ayah dan ibunya, dari anak- anaknya, dan dari seluruh manusia”.
Karena cintanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada kita lebih dari cintanya semua orang yang cinta kepada kita , ayah ibu kita tidak melebihi cintanya Rasulullah kepada kita . Dan orang yang cinta kepada ayah ibunya , berbakti kepada ayah ibunya , berbakti kepada semua keluarganya , itu semua mengikuti tuntunan nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam . Kalau seseorang mencintai Rasul maka seorang istri tidak akan menghianati suami , anak akan taat kepada ayah ibunya , dan ayah ibu tidak akan khianat pada amanah atas anaknya , karena ia mencintai sayyidina Muhammad dan mengikuti sang Nabi dan Allah tuntun ia menuju ke jalan-jalan luhur . Oleh karena itulah Rasul shallallahu 'alaihi wasallam menganjurkan kita untuk selalu mencintai beliau shallallahu 'alaihi wasallam , kalaupun seandainya terjebak dalam dosa kelak di akhir zaman , tetap orang yang mencintai akan bersama orang yang dicintai , kalau ia mencintai Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam maka ia akan bersama beliau shallallahu 'alaihi wasallam , maka keluarganya , ayah ibu dan anak-anaknya bisa ia tolong dengan memohonkan syafaat kepada Rasul shallallahu 'alaihi wasallam karena ia mencintai Rasul shallallahu 'alaihi wasallam dan Rasul pun mencintainya .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul tidak mengusir orang yang hendak masuk ke rumahnya , walaupun ia seorang yahudi yang mau masuk ke rumahnnya . Seorang yahudi datang ke rumah nabi dan berkhidmah di rumah nabi Muhammad , maka beliau memberinya izin . Seorang yahudi yang musyrik ingin masuk ke rumah beliau dan tinggal di rumah baliau , maka beliau shallallahu 'alaihi wasallam tidak menolaknya . Kalau kita renungkan demikian indah budi pekerti sang Nabi , bagaimana kalau kita yang memohon izin untuk masuk ke rumah Rasulullah , maka mustahil beliau akan menolaknya . Semoga aku dan kalian diizinkan masuk ke istana Firdaus , karena istana yang paling megah di surga adalah istana nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sayyidina Hassan bin Tsabit Ra adalah seorang yang suka memuji Rasulullah dengan syair , dan Rasul sahallalllahu 'alaihi wasallam mengizinkan untuk membacakan syairnya baik di dalam masjid atau di luar masjid . Bahkan di Masjid Nabawy diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa Hassan bin Tsabit membaca syair pujian untuk sang nabi , maka hal ini kita teruskan sampai sekarang , jadi membaca syair atau maulid Nabi yang ini adalah pujian kepada Allah dan Rasul di dalam masjid itu sudah ada di masa Rasul dan diperbolehkan oleh Rasul , namun sudah mulai tidak dikenal lagi di masa ini bahkan dianggap bid'ah , maka hal ini harus kita teruskan lagi , karena akhir zaman itu tanda-tandanya adalah yang sunnah dikatakan bid'ah , dan yang bid'ah dikatakan sunnah , ulama' dikatakan jahil dan yang jahil dikatakan ulama' , orang yang shalih dikatakan penyihir dan penyihir dikatakan orang yang shalih , inilah keadaan akhir zaman . Oleh sebab itu kita hidupkan lagi sunnah nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam .
Teriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari ketika salah seorang sahabat tidak menyukai Hassan bin Tsabit maka sayyidah Aisyah menghardik sahabat yang tidak menyukai sayyidina Hassan bin Tsabit seraya berkata : Jangan kalian mencaci sayyidina Hassan bin Tsabit karena dia dulu selalu memuji Rasulullah di hadapan beliau maka Rasulullah bangga dan senang terhadap Hassan bin Tsabit bahkan di doakan oleh Rasulullah . Sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari Rasulullah mendoakannya :
اَللّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوْحِ اْلقُدُسِ
" Ya Allah tolonglah Hassan dengan perantara Jibril As "
Belum pernah Rasul mendoakan seorang sahabat dengan doa sedahsyat ini , sampai meminta agar Jibril menolong langsung Hassan bin Tsabit , orang yang asyik memuji Rasul shallallahu 'alaihi wasallam . Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Dalam riwayat yang tsiqah ( kuat ) bahwa pada beberapa waktu yang lalu Syaikh Farazdaq orang yang selalu memuji Rasul shallallahu 'alaihi wasallam . Ia terus menerus memuji Rasul , kalau kita sekarang pujian-pujian itu seperti qasidah , maka setiap tahun dia selalu datang ke maqam Rasul di Masjid Nabawy dan membaca syair-syair pujian kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan setelah itu pulang , setiap tahunnya seperti itu . Dan setelah beberapa tahun datanglah seseorang menegurnya dan mengundangnya makan malam ke rumahnya.
Di Negara-negara timur tengah merupakan hal yang biasa jika ada orang asing di kampung mereka kemudian di undang ke rumah mereka untuk makan bersama , itu adalah hal yang umum disana . Maka Farazdaq sampailah di suatu tempat di luar kota Madinah dan masuklah ia ke dalam sebuah rumah besar , kemudian ia dipegangi oleh beberapa pengawal orang yang mengundangnya , dan orang yang mengundang itu berkata : " aku benci jika engkau memuji Rasulu , sekarang akan aku gunting lidahmu agar kau tidak bisa lagi membaca syair untuk memuji Rasul " maka ia pun memaksanya dan mengeluarkan lidahnya dan menggunting lidah Farazdaq dan melepaskannya dan memberikan lidah itu kepada Farazdaq kemudian menyuruhnya pergi .
Maka Farazdaq pergi dan menangis menahan sakit bathin dan sakit zhahirnya , sakit zhahirnya bagaimana rasa sakit jika lidah digunting , dan sakit bathinnya karena ia tidak bisa lagi membaca syair untuk memuji Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam . Sebagaimana biasa maka ia pun pergi ke makam Rasulullah dan ia bersandar di hadrah as syarif di dalam masjid nabawy , dan ia berkata di dalam doanya : " Wahai Allah , kalau shahibul maqam ini ( Rasulullah ) memang benci dengan perbuatanku ini maka biarkan aku agar tidak lagi memujinya , tetapi jika Engkau meridhai dan shahibul maqam ini ( Rasulullah ) senang jika aku terus memujinya dengan syair maka sembuhkanlah aku " , maka ia pun dalam tangisnya tertidur dan didalam tidurnya ia bermimpi Rasulullah shallallahu 'alihi wasallam berhadapan dengannya dan berkata : " mana lidahmu yang digunting oleh orang itu , ? kemudian diambil oleh Rasul dan beliau berkata : " buka mulutmu " dan dikembalikan ke mulutnya dan Rasul berkata : " aku gembira dengan perbuatanmu , maka teruskanlah dakwahmu dan syairmu " , maka ia terbangun dan ia dapati lidahnya telah kembali pada posisinya .
Kemudian di tahun berikutnya syaikh Farazdaq kembali lagi ke maqam Rasul dan memujinya sebagaimana biasa ia lakukan tiap tahun , dan ada lagi orang yang mengundang untuk makan malam di rumahnya dan ia pun menerima undangan itu dan ia pun dibawa ke rumahnya , ketika dilihat rumah itu adalah rumah yang tahun lalu pernah ia datangi , maka syaikh Farazdaq tidak mau masuk , maka orang itu berkata : " aku ingin kau masuk , kau jangan risau aku tau kau adalah orang yang baik dan kau lihat aku adalah orang yang jujur " , maka Syaikh Farazdaq masuk dan dilihat di dalam rumah itu ada sebuah penjara dari besi dan di dalamnya ada seekor kera (monyet) besar dan kera itu terus memandangi dan mengamuk melihat syaikh Farazdaq , maka berkatalah orang yang mengundang syaikh Farazdaq : " Wahai syaikh taukah engkau siapa yang di dalam kerangka besi itu " ? maka Farazdaq menjawab : " itu kera " , maka lelaki itu berkata : " itu ayahku yang dulu setahun yang lalu menggunting lidahmu , setelah ia melakukan itu maka Allah merubahnya menjadi seekor kera , wahai syaikh tolong doakan ayahku itu supaya diampuni Allah dan diwafatkan , kasian karena dia telah berubah menjadi kera " , Maka Syaikh Farazdaq menangis dan mendoakannya dan wafatlah seekor kera itu .
Hal seperti ini tidak mustahil , karena teriwayatkan di dalam Alqur'an dan Hadits shahih tentang keramat-keramat para shahabat dan juga orang-orang terdahulu , sebagaimana Allah berfirman ketika Nabi sulaiman meminta agar singgasana ratu Balqis di pindah ke hadapannya :
قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ ¤ قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ ¤ قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآَهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
( النمل : 38 – 40 )
" Berkata Sulaiman: "Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya (Ratubalqis) kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri " , berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya , lalu berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Kitabullah : "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: "Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia ". ( QS. An Naml : 38-40 )
Maka seseorang yang memiliki ilmu dari Al Kitab itu dalam sekejap mata telah mendatangkan singgasana ratu Balqis di hadapan nabi Sulaiman . Inilah keramat yang disebutkan di dalam Alqur'an dan juga banyak teriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim tentang keramat para shahabat Radhiallahu 'anhum . Hadirin hadirat , hal seperti ini tidak mustahil karena Yang Maha Memberi mampu memberi .
Kalau seandainya di masa sekarang orang tidak percaya jika ada orang yang hafal 100.000 hadits dengan sanadnya , tetapi di zaman dulu jumlahnya puluhan ribu orang yang seperti ini . Di zaman sekarang hampir mustahil , tetapi kalau kita bicara di masa lalu ada satu juta hadits dalam micro chip sebesar ujung jari , orang zaman dahulu tidak akan percaya apa mungkin satu juta hadits bisa disimpan dalam micro chip sebesar ujung telunjuk?? , itu adalah hal yang mustahil di masa itu , tetapi di masa sekarang hal itu masuk akal . Demikian pula zaman sekarang jika orang menghafal 100.000 hadits mungkin itu sulit , tetapi tentunya sangat mungkin terjadi .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Semoga Allah subhanahu wata'ala memuliakan hari-hari kita dengan keindahan , dengan kemuliaan . Rabbi , kami bermunajat demi cahaya keindahan-Mu maka perindah hari-hari kami , perindah jiwa perindah sanubari kami , perindah siang dan malam kami , perindah pemikiran dan lintasan jiwa kami , perindah usia kami , perindah masa mendatang kami .
Ya Allah , kami menyeru nama-Mu yang tiada seorang pun yang menyeru nama-Mu lalu Kau kecewakan , karena Kau Maha menjawab doa dan kami telah berharap dan Kau telah berfirman di dalam hadits qudsy :
ياَابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كاَنَ مِنْكَ وَلَا أُبَالِيْ
“ Wahai keturunan Adam, jika kau berharap kepada-Ku dan kau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Ku-hapus dosa kalian tanpa Ku-pertanyakan lagi "
Maka ingatlah dan panggillah nama-Nya , ingatlah firman Allah subhanahu wata'ala di dalam hadits qudsy kepada nabi Daud As :
ياَدَاوُد لَوْ يَعْلَمُ الْمُدْبِرُوْنَ عَنِّيْ شَوْقِي لِعَوْدَتِهِمْ ، وَمَحَبَّتِيْ فِيْ تَوْبَتِهِمْ ، وَرَغْبَتِيْ فِي إِناَبَتِهِمْ لَطاَرُوْا شَوْقًا إِلَيَّ ، يَادَاوُد هَذِهِ رَغْبَتِيْ فِى الْمُدْبِرِيْنَ عَنِّي ، فَكَيْفَ تَكُوْنُ مَحَبَّتِيْ فِى الْمُقْبِلِيْنَ عَلَيَّ...؟
“Wahai Daud : Seandainya orang-orang yg berpaling dari-Ku mengetahui kerinduan-Ku atas kembalinya mereka, dan cinta-Ku akan taubatnya mereka, dan besarnya sambutanku atas kembalinya mereka pada keridhoan Ku, niscaya mereka akan terbang karena rindunya mereka kepada-Ku. Wahai Daud, demikianlah cinta-Ku kepada orang-orang yg berpaling dari Ku (jika mereka ingin kembali), maka bagaimanakah cinta-Ku kepada orang-orang yg datang (mencintai dan menjawab cinta Allah ) kepada-Ku?”
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا...
Katakanlah bersama-sama..
يَا اللهْ يَا اَللهْ يَا اللهْ...يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ...لاَإلهَ إِلاَّ الله... مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالىَ مِنَ اْلأَمِنِيْنَ
Hadirin hadirat kita bertawassul kepada Ahlul Badr , Al Habib Sofyan menyampaikan kepada saya, beliau ini usianya lebih dari 80 tahun , dulu ketika beliau berjuang memberantas PKI di Banyuwangi senjatanya adalah Shalawat Badr , Shalawat Badr itu membawa kemenangan dan Fath untuk memberantas komunis dan Malam ini kita bertawassul kepada Ahlul Badr semoga Allah memberi kemenangan dalam kehidupan kita , Allah limpahkan kebahagiaan bagi kita , Allah bahagiakan hari-hari kita , sebelum Shalawat Badr dikumandangkan , kita bacakan Al Fatihah untuk Al marhum salah seorang ayah dari santri kita dari Papua semoga ruh beliau dimuliakan di alam barzakh , dan semoga putranya diberi ketabahan . Dan semoga kita semua yang hadir di malam hari ini bersama Majelis Rasulullah arwahnya dikumpulkan malam ini bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam . Amin

Hakikat Kehidupan Yang Mulia



ImageLimpahan puji kehadirat Allah yang telah menjadikan hujan sebagai lambang keindahan Illahi juga sebagai cobaan dan pengangkatan derajat bagi sebagian muslimin dan juga sebagai penghapusan dosa bagi sebagian muslimin dan juga sebagai Rahmat dan kemudahan bagi sebagaian muslimin lainnya. Maha Suci Allah SWT yang cahaya kelembutanNya terus memanggil para pendosa, cahaya kelembutan Illahi terus mengundang ruh dan jiwa mereka untuk meninggalkan dosa, untuk kembali kepada Allah “fafirruu ilallah..” Dari salah satu firman Allah memanggil hamba–hambaNya untuk lari dari dosa–dosa, lari dari seluruh permasalahan kepada Allah “fafirruu ilallah..” Wahai hamba–hambaKu tempat melarikan diri adalah kepadaKu, dari apapun keluhan–keluhan hamba-hambaNya hanya Dialah yang Maha Mampu memaksakan kehendaknya untuk mengatur dan merubah keadaan. Jalla wa'alla (Dia Maha Dahsyat dan Maha Luhur) yang menjadikan setiap saat merupakan Rahmat bagi umat dan sebagian lagi menjadi penghapusan dosa dan cobaan.
Maha Suci Allah yang undangannya memanggil nafas nafas para pendosa untuk bertaubat, mengundang mereka untuk kembali kepada Rahmat ilahi, sehingga tiadalah seseorang dari hamba ini wafat terkecuali menyesali ternyata betapa indah dan lemah lembutnya Allah, ternyata betapa baiknya Allah, ternyata betapa indahnya kasih sayang Allah, merugilah mereka yang telah meninggalkan Allah, didalam hidupnya, didalam hari harinya ia meninggalkan hal hal yang dicintai Allah, sebagaimana Allah SWT memanggil hamba hambaNya kelak di Yaumil Qiyamah “yaa ayyuhal insan.., Maa gharraka birabbikal kariim…….?” Wahai manusia apa yang telah membuatmu meninggalkanKu Tuhanmu yang Maha Pemurah? yang telah menciptakanmu dan menjadikanmu ada dari ketiadaan.,
Bukankah kita wajib berbakti kepada ayah dan ibu sedangkan Allah lebih dari pada jasa ayah dan bunda kita “maa gharraka birabbikal kariim……….” apa yang membuat engkau meninggalkan Tuhanmu yang Maha Pemurah yang menawarkan pengampunanNya atas setiap dosa, yang menginginkanmu selalu dekat kepada kasih sayangNya sehingga mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat, ketika orang orang menyesal di Yaumil Qiyamah akan tetapi sebagian hamba hamba Allah yang dimasa hidupnya selalu ingin bersama Allah mereka berada dalam kebahagiaan yang kekal, mereka di dalam istana istana termegah yang belum pernah dilihat mata, belum pernah didengar telinga, sebagaimana hadits Qudsyi Allah berfirman didalam hadits Qudsiy diriwayatkan dalam Shahih Bukhari “a’dadatu li’ibaadiy……….” telah Aku siapkan bagi hamba hamba Ku yang Shalih, ini yang berbicara adalah yang Maha Menciptakan jagat raya dengan segala kemegahannya, Kuciptakan dan Kusiapkan bagi hamba–hambaKu yang saleh apa–apa yang belum pernah terlihat mata, belum pernah didengar telinga, belum pernah terlintas dalam lintasan pemikiran mereka.
Ucapan dari hadits Qudsiy firman Allah ini bagi mereka yang berfikir dan mendalami dan merenunginya merupakan undangan Allah kepada setiap jiwa kita, telah kusiapkan hidangan–hidangan dan istana agung untukmu wahai hambaKu, sayanglah dan merugilah jika engkau menolak tawaranKu dan inilah mahluk yang paling merugi ketika ia menolak tawaran Rabbul 'alamin untuk hidup bersamanya dalam kebahagiaan yang kekal.
Hadirin-Hadirat yang dimuliakan Allah, sungguh Allah SWT lah yang tiada henti–hentinya Maha bersabar kepada mereka yang berbuat salah dari hambaNya dan betapa indahnya umat Nabi Muhammad saw yang mendapat undangan untuk selalu menghadap dalam setiap lima kali dalam setiap harinya, adakah lagi hamba yang lebih suci dan bercahaya dari umat Sayyidina Muhammad, mereka lima kali setiap hari dipanggil Allah, bukankah mereka benar–benar dimanjakan oleh Allah, adakah seorang raja memanggil seorang rakyatnya lima kali sehari terkecuali ia seorang yang sangat dicintai. Demikian keadaanku dan kalian yang selalu mendapat undangan agung lima kali setiap hari. Betapa suci dan terang benderangnya umat Nabi Muhammad saw dan betapa rugi dan gelapnya mereka yang menolak dengan Allah, ketika ia dipanggil oleh Allah ia menolak, ketika ia dipanggil oleh Allah untuk menghadap ia pun mungkar dan berpaling, adakah yang lebih rugi dari orang yang menolak undangan seorang raja, kalau ini rugi maka bagaimana dengan undangan Maha Raja langit dan bumi.
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah sambutlah undangan Rabbul 'allamin, dengan semangat gembira kehadirat Allah atas anugrahNya, jadikan siang dan malam kita selalu didalam cahaya Rabbani didalam cahaya kehidupan yang kekal dan inilah hakikat kehidupan yang mulia.
Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah sampailah kita dimalam yang diberkahi Allah ini dan esok hari saudara saudari kita dimedan haji mereka akan sampai di padang Arafah, hari yang sangat agung dari sepanjang tahun, bahkan berkata sebagian Muhadditsin “hari Arafah adalah hari yang paling mulia sepanjang tahun. Allah SWT menjanjikan kepada mereka yang berpuasa dihari Arafah pengampunan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang”. Allah swt menjanjikan bagi orang yang berpuasa di hari Arafah pahala puasa setahun penuh, setahun penuh berarti termasuk Ramadhan berarti berlipat ganda dengan puasa Ramadhan Allah kumpulkan seluruh kemuliaan bulan lainnya berpadu dalam satu hari mulai terbitnya matahari hingga terbenamnya matahari tanggal 9 Dzulhijjah.
Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah telah sampai riwayat didalam Alqur’anulkarim pada kita ketika Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya “Ketika sudah sampai usia putranya itu mulai tumbuh, berkata Al Hafidh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy usia putra Nabi Ibrahim 7 tahun, pendapat lain 12 tahun. Ada 2 pendapat, pendapat yang pertama mengatakan putra Nabi Ibrahim as yang disembelih adalah Nabi Ishaq as putra Nabi Ibrahim as, tetapi pendapat yang kedua mengatakan yang diperintah untuk disembelih adalah Nabi Ismail as putra Nabi Ibrahim as. Kedua pendapat ini sama-sama kuatnya, pendapat yang pertama didukung oleh Al Imam Al Hafidh Ibn Hajar Al Asqalaniy didalam kitabnya Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari, pendapat yang kedua itupun didalam tafsir Imam Ibn Abbas dan ulama lainnya. Pendapat ulama berikhtilaf tentang putra Nabi Ibrahim as yang disembelih akan tetapi menjadi pendapat jumhur bahwa mereka putra Nabi Ibrahim as yang diperintah untuk disembelih. “Wahai putraku aku bermimpi melihat menyembelihmu maka bagaimana pendapatmu?, putranya masih 7 tahun. Mimpi dari para Nabi adalah wahyu dan perintah Allah, berbeda dengan mimpi kita bukan wahyu dan bukan perintah Allah. Mimpi para Nabi adalah wahyu dan perintah Allah, bila ia bermimpi menyembelih putranya maka Allah memerintahkannya untuk menyembelih putranya. Akan tetapi Nabi Ibrahim as bertanya pada putranya, kenapa harus bertanya kalau sudah perintah Allah? Demi mencoba iman putranya karena seorang Nabi sudah cerdas dari kecilnya. Kalau dia memang betul Nabi apalagi Rasul sudah cerdas menerima perintah Allah sejak kecil.
Maka berkata putranya ini “wahai ayahku perbuat apa yang diperintah Allah kau akan temukan aku sebagai orang yang bersabar. Maka Nabi Ibrahim as membawa putranya keatas bukit dan disaat itu syaitan menghalangi perbuatan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ibrahim tidak mau menurut dengan godaan syaitan yang menghalanginya seraya mengambil 7 buah batu dan melempari syitan dan kejadian itupun hingga saat ini diabadikan dengan cara jumrah.
Allah swt menjadikan ummat ini mendapatkan kemuliaan-kemuliaan dari ummat yang terdahulu, perbuatan Nabi Ibrahim yang melihat syaitan yang menghalanginya menjalankan perintah Allah dilempari oleh Nabi Ibrahim as. Kita ummat Nabi Muhammad saw tidak mampu melihat syaitan tidak pula mampu untuk melempari syaitan, akan tetapi Allah menjadikan mereka yang berangkat haji melempar batu jumrah yaitu di Mina untuk apa? Untuk mendapatkan keberkahan dari perbuatan Nabi Ibrahim as.
Maha Suci Allah yang telah memperindah ummat ini dengan mengikat perbuatan mulia dari para Nabi dan Rasul diikat kepada ummat Nabi Muhammad saw. Nabi Ibrahim membawa putranya kebukit dan syaitan yang gagal menghalangi Nabi Ibrahim as datang kepada istrinya Sayyidatuna Sarah ra. Nabi Ibrahim mempunyai 2 istri Sayyidatuna Sarah ra dan Sayyidatuna Hajar ra, Sayyidatuna Hajar ra adalah ibunda Nabi Ismail as dan Sayyidatuna Sarah ra ibunda Nabi Ishaq as. Datang kepada Sayyidatuna Hajar ra “itu suamimu, anakmu dibawa keatas bukit mau disembelih” kata syaitan “sengaja katanya ia bermimpi menyembelih anaknya, itu dibawa anakmu mau disembelih diatas bukit”. Kaget Sayyidatuna Sarah ra dan berkata “apakah betul suamiku membawa membawa putraku untuk disembelih?”, maka berkatalah syaitan “buktikan saja, memang begitu”.
Kita lihat iman seorang wanita shalihah, maka berkatalah istrinya “aku takut suamiku ragu-ragu menerima perintahnya Allah..!”, malah ingin diyakinkan oleh Sayyidatuna Sarah ra kalau seandainya Nabi Ibrahim as ada didepannya akan ia bilang “jangan ragu-ragu kalau sudah perintah Allah. Demikian hebatnya iman Sayyidatuna Sarah ra. Maka putranya dibawa keatas bukit dan seraya berkata “wahai ayahku tajamkan pisaumu”. Demikian diriwayatkan didalam Fathul Baari bisharah Shahih Bukhari “tajamkan pisaumu wahai ayah dan jadikanlah pakaianku ini sebagai kafanku karena kita tidak mempunyai kain kafan, kalau nanti kena darah yang mengalir dari tubuhku tidak bisa dijadikan kafan maka jadikan saja pakaian ini kafan maka pakaiannya pun dibuka. Bocah kecil ini pun berkata “wahai ayah ikatlah akau agar aku tidak berontak sehingga kau ragu-ragu menyembelihku nanti” sehingga kepalanya ditaruhkan diatas batu dan Nabi Ibrahim mengangkat pedangnya dan malaikat Jibril membalikkan tangannya pada seekor kambing.
Siapa yang mampu berbuat seperti ini dari kita?, berat mendapat perintah Allah menyembelih anaknya. Akan tetapi Allah mengikat perbuatan ini dengan ummat Nabi Muhammad saw sehingga seluruh ummat Nabi Muhammad saw disunnahkan menyembelih qurban sehingga mendapatkan pahala kemuliaan Nabi Ibrahim as. Demikian Allah mengikat ummat ini dengan banyaknya hal-hal yang mulia dimasa yang terdahulu. Demikian indahnya Sayyidatuna Sarah ra dan Sayyidatuna Hajar wanita-wanita shalihah.
Sampailah kita dimalam hari ini kepada salah satu Qurratul aini li Rasulillah, belahan cinta Nabi Muhammad saw yaitu putri beliau saw Sayyidatun Fathimah tu Zahra ra yang menjadi lambang istri yang shalihah, putri yang shalihah dan ibunda yang shalihah dan sahabiyah yang shalihah. Empat kemuliaan Sayyidatuna Fathimah ra menjadi Qudwah (panutan) sebagai istri yang shalihah, menjadi Qudwah sebagai anak yang shalihah berbakti kepada ayah dan ibunya dan menjadi Qudwah sebagai ibu yang shaleh terhadap anaknya dan menjadi sahabat Nabi saw yang mulia.
Empat kemuliaan ini berkumpul pada Sayyidatuna Fathimah Zahra ra. Ketika datang tamu kepada Sayyidatuna Fatihimah Zahra ra tiadalah ia ingin menemui tamunya sebelum meminta izin kepada suaminya Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw padahal ia adalah putrinya Rasulullah saw.
Penghargaannya kepada suaminya tidak mau menemui tamu terkecuali sudah diizinkan oleh suaminya. Istri yang shalihah dan juga sebagai ibunda yang shalihah, ibunda yang selalu mendidik anak-anaknya dengan didikan yang mulia dengan pengajaran Nabi Muhammad saw. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika Sayyidatuna Fathimah Zahra ra mengadu kepada Rasul karena selalu menumbuk gandum dengan tangannya sendiri, tangan yang demikian lembutnya tercabik-cabik karena kasarnya daripada alat untuk menumbuk gandum itu. Tangan Sayyidatuna Fathimahtu Zahra ra yang demikian lembutnya yang diriwayatkan oleh Alhafidh Al Imam Muhammad bin Alwi dalam kitabnya bahwa Rasul saw selalu mencium pipinya Fathimah karena pipinya Sayyidatuna Fathimah ra wanginya sama dengan wanginya buah-buahan di surga sehingga Rasul saw jika rindu kepada surga mencium Sayyidatuna Fathimah ra putrinya.
Tangan lembut itu tercabik-cabik terkena kasarnya alat penumbuk gandum, ia harus menumbuk gandum setiap harinya untuk membuat roti sendiri untuk makanan anaknya seraya datang kepada Rasul meminta khadim barangkali ada pembantu yang bisa membantuku dirumah untuk menumbuk gandum wahai ayahku. Rasul saw menjawab “kuberi kau amalan yang lebih indah dari sekedar pembantu yaitu bacalah Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x dan Allahu akbar 34x sebelum tidur, itu akan membuatmu bersemangat dan memberimu kekuatan.
Ini mujarab hadirin, ini terijazahkan oleh guru mulia kita Alhafidh Almusnid Alhabib Umar bin Hafidh setahun yang silam, mengijazahkan setiap akan tidur untuk membaca Subhanallah 33x, Alhamdulillah 33x, Allahu akbar 34x sebelum setiap tidur.
Ini diriwayatkan didalam Shahih Bukhari dan ini adalah amalan yang dipegang oleh putrinya Rasulullah saw Sayyidatuna Fathimah Zahra ra. Kita bertanya kok tega sekali Rasulullah saw tidak mau memberi pembantu kepada putrinya, Bukankah ini putri yang paling disayangi? Kita bertanya apakah Rasul ini kejam mendidik putrinya? Tentunya tidak.
Jawabannya adalah putri beliau ini Sayyidatuna Fathimah ra adalah seorang wanita shalihah yang sangat khusyu dalam beribadah, maka Rasul saw tidak menginginkan anaknya memakan dari makanan yang ditumbuk oleh pembantu agar makanan anak-anaknya yaitu Sayyidina Hasan dan Husein ra langsung mendapatkan makanan dari gandum yang ditumbuk sendiri oleh tangan ibunya, Keberkahan dari ibunya Sayyidatuna Fathimah Zahra ra.
Ini menjadi hikmah bagi kita juga terutama bagi kaum wanita untuk memberi makan anak-anaknya dari tangannya sendiri. Tangan itu lebih membawa keberkahan dari seorang wanita shalih dan ibunya sendiri daripada tangan pembantu. Demikian didikan Nabi Muhammad saw sehingga muncul putra yang shalihin Sayyidina Hasan wal Husein ra yang keduanya menjadi imam besar bagi muslimin dan jadilah Sayyidatuna Fathimah Zahra ra ibunda bagi seluruh dzuriah Nabi saw hingga akhir zaman. Perbuatan yang sedikit menyakitkan tapi keberkahannya hingga akhir zaman.
Demikian hadirin dan beliau juga sebagai putri yang shalihah. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika Rasul saw ditumpahi kotoran onta saat bersujud, Sayyidatuna Fathimah ra keluar dari rumahnya dan berteriak ”wahai ayahku dan seraya mendudukkan Sang Nabi dari sujudnya dan membersihkan kotoran onta dari pundak Sang Nabi saw seraya menangis dan Rasul saw berkata “wahai Fathimah putriku akan muncul suatu saat bahwa agama islam akan merajai dimuka bumi”. Demikian hadirin-hadirat putri yang shalihah, hari-hari terakhir sebelum wafatnya Sang Nabi, Rasulullah saw memanggil Sayyidatuna Fathimah ra seraya berkata “wahai putriku biasanya Jibril datang kepadaku dibulan Ramadhan satu kali tapi kali ini ia datang dua kali, ini menunjukkan adalah ini tahun terakhirku dan aku akan wafat Wahai putriku”
mendengar ucapan ini maka menangislah Sayyidatuna Fathimah ra, dan berkatalah Rasul saw “wahai putriku apakah kau ridha sebagai kedudukan Sayyidah nisa Ahluljanna..?, kau ini adalah pemimpin seluruh wanita dari penduduk surga” maka seraya tersenyum dengan kabar gembira dari Rasulullah saw. Diriwayatkan oleh para fuqaha kita bahwa beliau tersenyum bukan karena derajatnya sebagai pemimpin wanita ahluljannah tapi karena gembira, karena apa? Karena telah dihibur oleh ayahnya yang menjadi manusia yang paling ia cintai seraya tersenyum karena dihibur oleh ayahnya Rasulullah saw. Sehingga Rasul saw bersabda diriwayatkan didalam Shahih Bukhari .”Sayyidatuna Fathimah tu Zahra ra adalah belahan tubuhku dan akan murkalah aku pada siapa-siapa yang membuatnya marah”.
Demikian hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, agungnya putri Rasulullah saw ini sehingga jadilah keturunan Rasul saw muncul dari keturunan Sayyidatuna Fathimah Zahra ra sebagaimana firman Allah yang menjadi dalilnya “Sungguh wahai Muhammad kuanugerahkan padamu telaga al kautsar, dan lakukanlah shalat yaitu shalat idul adha, dan setelah itu berkurbanlah. “innasyani’aka huwal Abtar” justru mengatakanmu (Abtar adalah orang yg putus keturunannya) al abtar dialah yang abtar. Jadi Rasul saw ini digelari oleh salah seorang musyrikin abtar, abtar itu apa? Tidak punya keturunan lelaki karena semua keturunan Rasulullah wafat, maka Allah menjawab “innasyani’aka huwal Abtar”yang abtar itu yang putus keturunannya adalah yang mengucapkannya kepadamu bukan engkau saw. Ayat ini dijadikan dalil oleh para muhaddits kita bahwa keturunan Rasul tidak terputus yaitu berlanjut dari keturunan Sayyidatuna Fathimah ra karena Allah menjawab “innasyani’aka huwal Abtar”bukan Rasul yang putus keturunannya, berarti keturunannya Rasul tidak terputus sampai kepada Sayyidina Hasan wal Husein ra yang diakui zumhur oleh seluruh ulama ahlusunnah wal jamaah sebagai keturunan Rasulullah saw.
Demikian hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah, dan Rasul saw sebagai lambang manusia yang menghantarkan seluruh ummat kepada kemuliaan ini sangat dicintai oleh putrinya dan oleh para sahabat sehingga Sayyidatuna Fathimah Zahra ra setelah wafatnya Rasul tidak lagi keluar rumahnya seraya berkhalwat sehingga beliau ra wafat 6 bulan setelah wafatnya Rasulullah saw, setelah mendapat kabar dari Sang Nabi orang pertama yang akan menyusulku dari sahabatku adalah engkau wahai Fathimah. Beliau ra yang pertama kali menyusul ayahnya Rasulullah saw dan disusul oleh Sayyidina Abu Bakar Asshiddiq ra lantas para sahabat lainnya kembali ke alam barzakh, aku dan kalian semoga akan menyusul mereka..
Ketika Sayyidina Zied bin Haritsah ra diriwayatkan didalam Shahih Bukhari salah seorang budak yang ditawarkannya kebebasan untuk kembali kepada ayahnya atau tetap bersama Rasul. Kupilihkan padamu kata Rasul “bebas jadi orang merdeka balik pada ayahmu atau tetap bersamaku?” maka berkata Sayyidina Zeid bin Haritsah ra : “wahai Rasulullah aku tidak memilih orang lain selain mu”, jangan berkata silahkan pilih, Tidak akan kupilih orang lain selain mu ya Rasulullah”. Demikian indahnya cinta Sayyidina Zeid bin Haritsah ra kepada Sayyidina Muhammad saw dan ia bukan seorang sahabat besar dari Khulafaur Rasyidin, bagaimana para Khulafaurrasyidin Nabi?
Sayyidina Abdullah bin Umar ketika Rasul saw telah wafat, ia sedang duduk di Masjid Nabawi, maka terlihat seorang pemuda masuk ke masjid terburu dalam keadaan selesai berwudhu masuk kedalam shaf shalat berjamaah. Berkata Sayyidina Abdullah bin Umar ra : ini anak seperti ini kalau dilihat oleh Rasulullah saw pasti dicintai oleh Rasul”, kenapa? Pemuda yang mencintai sunnah Nabi Muhammad saw. Pemuda berwudhu terburu-buru ingin hadir shalat berjamaah.
Hadirin-hadirat sampailah kita 14 abad setelah wafatnya Rasulullah saw namun tidak bisa memutus cinta kita kepada Nabi Muhammad saw. 1400 tahun jarak antara kita dengan Rasulullah saw kita tidak bisa terputus dengan jarak sepanjang itu, kita tetap mencintai Nabi Muhammad saw. Kita tidak melihat Rasul, tidak berkumpul dengan Rasul, tidak mendengar suara Rasul tapi kita mencintai Nabi Muhammad saw. Inilah yang paling menggembirakan hati Sang Nabi karena beliau tidak gembira melebihi para pemuda yang mengikuti sunnah beliau saw. berkumpul kita dimalam hari ini niscaya kalau Rasulullah saw melihat kita akan mencintai kita.
Hadirin-hadirat yang dimuliakan Allah penyampaian saya yang terakhir dari sabda Rasulullah diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika beliau saw berkhutbah di akhir majelis sebelum beliau wafat seraya berkata “Sungguh manusia muslimin semakin banyak..” kata Rasul saw, beliau keluar pakai pengikat kepalanya tanda sakit kepalanya yang demikian dahsyat keluar menuju majelis dan duduk diatas mimbar menyampaikan ucapan “sungguh manusia muslimin akan semakin banyak, tetapi yang mendukung semakin sedikit, bagaikan butiran-butiran garam didalam suatu makanan, sedikit saja, barang siapa yang dipimpin oleh seorang muslim dan ia melihat ada suatu mudharat yang diperbuat oleh pemimpinnya tetapi membawa manfaat bagi kelompok muslimin lainnya maka terimalah perbuatan baiknya dan maafkan kesalahannya”. hadits ini riwayat Shahih Bukhari, pahamlah kita bahwa Rasulullah saw melarang pengingkaran terhadap pemimpin selama ia beragama islam. Rasul saw memilihkan kepada kita pembenahan ummat dari bawah bukan dengan penghancuran dari atas dengan kekerasan.
Inilah wasiat Nabi saw, berkata Imam Bukhari ra setelah Rasul saw mengucapkan ini beliau saw masuk rumahnya, itulah majelis yang terakhir dihadiri oleh Nabi Muhammad saw. Wasiat beliau saw bila muncul kelak orang-orang muslim yang memimpin pada kalian terlihat hal yang mudharat pada perbuatan mereka, pada sebagian muslimin dan masih membawa manfaat bagi sebagian muslimin lainnya terimalah perbuatan baik mereka dan maafkanlah kesalahan mereka, Inilah sabda dan wasiat Nabi kita yang terakhir dari khutbah beliau dimajelis beliau yang terakhir maka tentunya kita semua menerima dengan ucapan “sami’na wa athana ya Rasulullah saw”
Hadirin-hadirat baru beberapa hari yang lalu saya kembali dari Banjarmasin Kalimantan Selatan, demikian luar biasanya Banjarmasin Kalimantan Selatan ini, saya gelari wilayah ini sebagai serambi Madinah Al Munawwarah karena majelis-majelisnya disana majelis mingguannya puluhan ribu yang hadir bukan ribuan, Rasanya Majelis Rasulullah ini sudah demikian besarnya di Jakarta tetapi diwilayah Kalimantan Selatan puluhan ribu yang hadir setiap minggunya dan mereka bershalawat bersama menggetarkan bumi shalawat mereka ini. Puluhan ribu lidah muslimin muslimat, mereka berdatangan dengan motor, dengan mobil, bahkan dengan ratusan perahu sehingga kalau satu kampung ditempat majelis itu salah satu pemimpinnya yang disebut dengan Tuan Guru Syamsuni ia berkata : “Habib ini semua lelaki memenuhi jalanan wanitanya semua didalam rumah, karena satu kampung ini membuka rumahnya untuk menerima tamu-tamu dari kaum Nisa, disetiap rumah sudah ada televisi semua wanita memenuhi seluruh kampung disini. Ini sekitar 20 ribu yang hadir, masya Allah hadirin-hadirat ini Serambi Madinatul Munawwarah. Hadir dimajelis lain lagi puluhan ribu lagi yang hadir, ini majelis mingguan kita belum bicara majelis tahunan mereka, ini Serambi Madinatul Munawwarah.
Hadirin-hadirat akan tetapi Kalimantan Selatan mulai dirasuki dengan kerusakan aqidah yang mulai masuk diwilayah mereka dan kita akan terus untuk insya Allah membantu mereka menegakkan Sunnah Nabi Muhammad saw. Melihat kejadian itu saya bersemangat didalam jiwa ini sungguh niat agung kita menjadikan Jakarta ini Serambi Madinah Munawwarah, akan datang waktunya majelis-majelis maulid Nabi akan dipenuhi puluhan ribu muslimin dari pemuda-pemudi di Jakarta.
Rabbi Ya Rahman Ya Rahim demi hujan yang kau turunkan jadikanlah ini bukti dan saksi bahwa akan datang masa kota Jakarta dan sekitarnya menjadi Serambi Madinah Munawwarah, kota yang paling banyak mencintai Nabi Muhammad saw, mencintai sunnah Rasulullah, mengikuti sunnah Sang Nabi, Jadikanlah kota ini kota Ahlul sujud, kota ahlul khusyu, kota yang mencintai Rasulullah, Yaa Rahman Yaa Rahim Yaa dzaljalii wal ikram inilah doa kami Rabbi akan muncul kelak satu generasi sesudah kami yang akan memakmurkan kota Jakarta dan sekitarnya, dan memakmurkan seluruh Barat dan Timur menjadikan muka bumi ini para pecinta Nabi Muhammad saw, Rabbi kami berdoa dan kami mengikut sertakan dalam perjuangan ini.
Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Rahman Yaa Rahim Yaa dzaljalii wal ikram kami berharap kota Jakarta ini bergemuruh dengan melafadzkan nama Mu yang maha agung, hapuskan seluruh dosa-dosa kami, jawab seluruh hajat kami dengan pengabulan, singkirkan segala kesulitan kami Yaa Rahman Yaa Rahim. Hadirin-hadirat konsentrasikan jiwamu didalam memanggil nama Allah atas seluruh hajatmu, atas semua permintaanmu dan mintalah pengampunan atas dosa-dosa kita dan bimbingan agar kita dibukakan keberkahan dalam sisa kehidupan kita..
Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Allahu Yaa Allah… Yaa Rahman Yaa Rahim Yaa dzaljalii wal ikram, salah satu dari doa saya tidak ingin wafat sebelum melihat kota Jakarta menjadi Serambi Madinahtul Munawwarah. Amin Allahumma amin

Minggu, 28 Agustus 2011

Langkah Wujudkan Keyakinan

Kita perlulah yakin dan percaya dengan diri kita sendiri sebelum mengharapkan orang lain mempunyai keyakinan dan kepercayaan kepada kita. Oleh itu secara ringkasnya berikut merupakan 10 langkah yang ke arah mewujudkan keyakinan diri:

  1. Anggapkan diri anda yang diciptakan oleh Allah adalah sama seperti orang lain.
  2. Jika orang lain boleh buat, kenapa anda tidak boleh buat?
  3. Kenal pasti kekurangan atau kelemahan yang ada pada diri anda dan baikinya.
  4. Jangan takut-takut atau teragak-agak untuk melakukan sesuatu yang positif.
  5. Elakkan perasaan malu yang tidak bertempat.
  6. Lakukan riadah yang ringan sebelum melakukan sesuatu pekerjaan, ianya sebagai pemanas badan yang dapat mengaktifkan diri seseorang.
  7. Sentiasa mengemas diri dan anggapkan diri anda adalah terbaik pada hari itu.
  8. Apabila berinteraksi pandang tepat pada muka dan mata orang yang kita sedang berinteraksi dan gunakan sedikit pergerakan tangan untuk menerangkan sesuatu. Jangan terlalu kaku.
  9. Apabila memulakan sesuatu tugas jangan memikirkan tentang masalah, tetapi fikirkan tentang hasilan yang akan diperolehi selepas tugas tersebut selesai.
  10. Sentiasa peka terhadap waktu, jangan berlengah-lengah atau bertangguh dalam melaksanakan sesuatu tugas.

Tenanglah Wahai Hati

Setiap hari kita ketawa. Setiap hari kita jumpa kawan. Setiap hari kita dapat apa yang kita nak. Tapi.. kenapa hati kita tak gembira? Kita sembahyang setiap hari. Kita berdoa selalu pada Allah. Kita minta sungguh-sungguh pada Allah. Tapi.. kenapa susah sangat doa kita nak makbul? Sedangkan Allah ada berfirman. "Berdoalah pada Ku, nescaya akan Ku kabulkan...,"

Apa masalah kita? 


Hati kita tak gembira sebab kita tak pernah bersyukur dengan apa yang kita ada. Kita tak pernah nak menghargai setiap nikmat yang kita dapat. Kita asyik memikirkan benda yang kita tak ada, sampai kita lupa melihat nikmat sekeliling kita.

Kita berdoa, tapi kenapa payah sangat doa kita Allah nak makbulkan? 

Sebab kita asyik meminta pada Allah, tapi kita tak pernah minta ampun pada Allah, sedangkan dosa-dosa kita terlampau banyak pada Allah. Alangkah tidak malunya kita. Kita merintih, kita merayu agar Allah makbulkan doa kita. Tapi, lepas kita dapat kesenangan kita lupa pada Allah, kita tak bersyukur pada Allah. Bila dah datang kesusahan, baru nak ingat Allah balik. Baru nak menangis, merintih.. minta Allah pandang kita. Macam mana Allah nak makbulkan doa kita?

Nilai Penting Iman


Iman yang sempurna mencakup keyakinan di dalam hati, perkataan dengan lisan dan perbuatan dengan anggota badan. Iman memiliki enam rukun, yaitu: iman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan iman kepada qadar. Demikian juga, iman memiliki 73 lebih cabang. Keimanan tersebut dasarnya adalah keyakinan yang disertai dengan kecintaan dan ketundukan terhadap segala yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Allah Ta’ala.
Manusia sangat membutuhkan iman, namun kebanyakan mereka mengabaikannya. Bahkan, sebagian manusia rela meninggalkan iman hanya karena kesenangan dunia atau mengikuti hawa nafsu. Hal ini semua, karena mereka tidak meyakini, atau lemah keyakinannya, atau tidak mengetahui nilai penting iman. Maka, di sini kami sampaikan buah-buah iman yang menunjukkan nilai pentingnya, sehingga kita akan mengetahui bahwa nilai iman tidak ada bandingannya. Inilah di antara perkara yang menunjukkan nilai penting iman:
1- Masuk Islam menggugurkan semua dosa sebelumnya
Di antara rahmat Allah yang sangat luas adalah tawaran-Nya kepada orang-orang kafir dan musyrik, jika mereka bertobat dan masuk Islam, maka dosa mereka yang telah lalu di ampuni. Allah berfirman,
قُلْ لِّلَّذِينَ كَفَرُوا إِن يَنتَهُوا يُغْفَرْ لَهُم مَّاقَدْ سَلَفَ وَإِن يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّةُ اْلأَوَّلِينَ
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir itu, “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang sudah lalu; dan jika mereka kembali lagi, sesungguhnya akan berlaku (kepada mereka) sunnah (ketetapan Allah) terhadap orang-orang dahulu.“ (Q.S. Al-Anfaal/8: 38).
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا أَسْلَمَ الْعَبْدُ فَحَسُنَ إِسْلَامُهُ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ كُلَّ حَسَنَةٍ كَانَ أَزْلَفَهَا وَمُحِيَتْ عَنْهُ كُلُّ سَيِّئَةٍ كَانَ أَزْلَفَهَا ثُمَّ كَانَ بَعْدَ ذَلِكَ الْقِصَاصُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرَةِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ وَالسَّيِّئَةُ بِمِثْلِهَا إِلَّا أَنْ يَتَجَاوَزَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهَا
Jika seorang hamba masuk Islam, lalu Islamnya baik, Allah menulis semua kebaikan yang pernah dia lakukan, dan dihapus darinya semua keburukan yang pernah dia lakukan. Kemudian setelah itu ada qishash (balasan yang adil), yaitu satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat sampai 700 kali lipat. Adapun satu keburukan dibalas dengan sama, kecuali Allah ‘Azza wa Jalla mengampuninya. (H.R. Nasai, no. 4998, dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Silsilah Ash-Shahihah, no. 247).
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda kepada sahabat ‘Amru bin Al-’Aash yang berkehendak masuk Islam,
أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ الْإِسْلَامَ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ وَأَنَّ الْهِجْرَةَ تَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلِهَا وَأَنَّ الْحَجَّ يَهْدِمُ مَا كَانَ قَبْلَهُ
Tidakkah engkau tahu bahwa Islam menggugurkan (dosa-dosa) sebelumnya, dan bahwa hijroh menggugurkan (dosa-dosa) sebelumnya bahwa haji menggugurkan (dosa-dosa) sebelumnya. (H.R. Muslim, no. 121).
Kalau demikian, alangkah pemurahnya Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Alangkah besarnya nilai agama Islam ini, dan alangkah agungnya nilai iman. Maka, jangan sampai seseorang menggadaikannya dengan kesenangan dunia yang sementara ini, karena dia akan merugi dengan kerugian yang sejati.
2- Kehidupan yang baik
Allah Ta’ala berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. An-Nahl/16: 97),
“Ini adalah janji dari Allah bagi orang yang beramal shalih, yaitu amal yang mengikuti kitab Allah Ta’ala dan Sunnah Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari kalangan laki-laki maupun perempuan dari anak-anak Adam, dan hatinya beriman kepada Allah dan rasul-Nya, dan amal yang diperintahkan itu disyariatkan oleh Allah Ta’ala, bahwa Allah akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik di dunia. Dan Allah akan membalasnya di akhirat dengan balasan yang lebik baik dari apa yang telah dia lakukan. Dan kehidupan yang baik itu meliputi bentuk-bentuk kenyamanan dari semua sisi. Seperti rezeki halal yang baik, qana’ah, kebahagiaan, beribadah di dunia, dan mengamalkan ketaatan dengan hati yang lapang.” (Tafsir Ibnu Katsir dengan ringkas).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
Sungguh telah beruntung orang yang masuk Islam dan dia diberi rezeki yang cukup, dan Allah menjadikannya qana’ah (ridha; menerima) dengan apa yang Dia berikan kepadanya. (H.R. Muslim, no. 1054; Tirmidzi; Ibnu Majah; Ahmad; dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash).
Di dalam hadits shahih disebutkan tentang perkara mengherankan yang ada pada keadaan seorang mukmin,
عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
Dari Shuhaib, dia berkata, Rasululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh mengherankan urusan seorang mukmin, sesungguhnya urusannya semuanya baik, dan tidaklah hal itu terjadi bagi seorangpun kecuali bagi seorang mukmin. Jika kesenangan mengenainya, dia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Jika kesusahan mengenainya, dia bersabar, maka hal itu baik baginya.” (H.R. Muslim, no. 2999).
3- Aman dari kesesatan di dunia dan dari kecelakaan di akhirat
Allah berfirman,
فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلاَ يَضِلُّ وَلاَ يَشْقَى
Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka. (Q.S. Thaha/20: 123).
Yang dimaksud dengan petunjuk dari Allah di sini adalah para Nabi dan rasul yang membawa penjelasan kitab suci dari Allah Ta’ala. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengikuti petunjuk-Nya, bahwa mereka tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat. Adakah keberuntungan melebihi hal ini? Sebaliknya, Allah mengancam orang yang berpaling dari petunjuk-Nya dengan firman-Nya,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِى فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى {124} قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا {125} قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ ءَايَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى {126} وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن بِئَايَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ اْلأَخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى { 127}
Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.
Berkatalah ia, “Ya Rabb-ku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya seorang yang melihat.” Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu kamu melupakannya, dan begitu(pula) pada hari inipun kamu dilupakan.” Dan demikanlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Rabb-nya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal. (Q.S. Thaha/20: 124-127)

Menuju Cinta Hakiki


بسم الله الرحمن الرحيم
Oleh Al-Ustadz Dzulqarnain
Mencermati perjalanan kata “cinta” di tengah manusia adalah suatu hal yang mengherankan bagi penuntut kehidupan kekal abadi, pengelana ke negeri akhirat. Dalam kehidupan ini, banyak insan rela untuk berkorban bagi siapa yang dia cintai, tidak peduli dengan rintangan yang harus dihadapi guna membuat yang dia cintai tenang dan bahagia. Betapa dia memberikan perhatian kepada kecintaannya dan berusaha untuk memenuhi segala kebutuhannya. Terasa hatinya gundah-gulana tatkala yang dicintainya dirundung duka dan kesedihan. Atau amatlah besar kepedihan hati dan kesengsaraan tatkala dia mendapatkan dari yang dia cintai ada yang selain dari apa yang dia harapkan.
Memang merupakan tabiat manusia untuk mencintai siapa yang berbuat baik kepadanya, atau paling tidak membalas budi kepadanya, dan ini adalah dasar pokok tumbuhnya cinta pada sebagian manusia kepada sebahagian lainnya. Namun, bukankah segala nikmat dan kebaikan yang dia dapatkan dari orang yang dicintainya adalah berasal dari Allah?
“Dan apa saja nikmat yang ada pada kalian, maka dari Allah-lah (datangnya), dan bila kalian ditimpa oleh kemudharatan, maka hanya kepada-Nyalah kalian meminta pertolongan.” [An-Nahl: 53]
Adakah suatu nikmat yang dia berikan kepada orang yang dia cintai tidak berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla, sedang dia mengetahui bahwa hanya milik Allah-lah segala yang di langit dan di bumi?
Inilah letak keheranan sekaligus renungan pelajaran dalam samudra kehidupan yang penuh dengan cobaan dan godaan ini.
Pembaca yang terhormat, ketahuilah bahwa tiada kebahagiaan dan keberuntungan yang lebih besar dari kecintaan kepada Allah. Itulah surga dunia dan kenikmatan hakiki.
Kecintaan kepada Allah adalah kenikmatan jiwa, kehidupan ruh, kegembiraan diri, energi hati, cahaya akal, penyejuk mata dan kemakmuran batin. Tiada hal yang lebih nikmat dan lebih sejuk bagi hati yang sehat, jiwa yang baik, dan akal yang jernih dari kecintaan kepada Allah, rindu untuk beribadah kepada-Nya dan berjumpa dengan-Nya.
Kecintaan kepada Allah ialah ruh kehidupan, siapa yang luput darinya maka tergolong ke dalam bangkai-bangkai yang berjalan. Ia adalah cahaya, siapa yang tidak berbekal dengannya maka dia akan berada dalam lautan kegelapan. Ia adalah penyembuh, siapa yang tidak memilikinya maka hatinya akan terjangkit oleh seluruh penyakit. Dan ia adalah kelezatan, siapa yang tidak menemukannya maka hidupnya hanya sekedar gundah gulana dan kepedihan.
Kecintaan kepada Allah inilah yang mengantarkan hamba kepada negeri yang hanya dapat dicapai setelah menjalani berbagai rintangan dan kesulitan. Dan dengan cinta inilah, seorang hamba meraih kedudukan dan derajat yang didambakan oleh setiap hamba yang shalih.
Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ
“Ada tiga perkara, yang barangsiapa perkara-perkara tersebut terdapat padanya, maka dia akan merasakan kelezatan iman, (yaitu) hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai dari selain keduanya, hendaknya dia cinta kepada seseorang, tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah dan hendaknya dia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka.”
Membahas masalah kecintaan kepada Allah adalah menyibak samudra yang sangat luas. Namun cukuplah di sini kita mengisyaratkan akan tiga hal.
Kecintaan kepada Allah adalah pondasi ibadah.
Berkata Ibnu Taimiyah, “Kecintaan kepada Allah, bahkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya termasuk kewajiban yang paling agung, dasarnya yang paling besar dan pondasinya yang mulia. Bahkan dia adalah dasar setiap amalan, dari berbagai amalan keimanan dan agama.”
Ibnul Qayyim bertutur pula, “Pondasi ibadah adalah cinta kepada Allah. Bahkan mengesakan Allah adalah dengan kecintaan itu, di mana segala cinta hanya untuk Allah. Tidak boleh selain Allah dicintai bersama Allah. Akan tetapi kecintaannya hendaknya karena Allah dan pada Allah, sebagaimana dia mencintai para nabi dan rasul, para malaikat dan para wali. Kecintaannya kepada mereka adalah dari kesempurnaan kecintaannya kepada Allah dan bukan cinta kepada mereka bersama Allah.”
Maksudnya bahwa segala cinta itu hanya untuk Allah. Bila seorang hamba memberi cinta kepada makhluk, maka kecintaan tersebut juga karena Allah dan karena melaksanakan perintah-Nya, sebagaimana seorang mukmin cinta kepada para nabi, para malaikat, kaum mukminin dan selainnya. Adapun siapa saja yang mencintai makhluk dengan cinta ibadah, atau di samping cinta kepada Allah  dia juga mencintai makhluk maka hal tersebut tergolong perbuatan kesyirikan yang mengeluarkan pelakunya dari keislaman, sebagaimana dalam firman Allah,
“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang  yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaa-Nya (niscaya mereka menyesal).” [Al-Baqarah: 165]
Tanda-tanda Cinta kepada Allah
Berikut ini beberapa ayat yang menjelaskan tanda-tanda kecintaan kepada Allah.
Di antaranya adalah firman Allah,
“Katakanlah, “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” [Âli ‘Imrân: 31]
Ayat ini menjelaskan bahwa tanda kecintaan seorang hamba kepada Allah dengan mengikuti Rasulullah shallalâhu ‘alaihi wa sallam dalam segala tuntunan dan syariat yang beliau bawa, secara zhahir maupun bathin.
Selanjutnya, firman Allah Ta’âlâ,
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah-lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui.” [Al-Mâ`idah: 54]
Dalam ayat ini terdapat empat tanda kecintaan hamba kepada Allah:
Pertama, dia berlemah lembut kepada sesama mukmin.
Kedua, dia bersikap keras dan benci kepada orang-orang kafir.
Ketiga, dia berjihad di jalan Allah dengan segala kemampuannya, baik dengan harta, lisan, badan maupun hatinya.
Keempat, dia tidak takut terhadap celaan manusia dalam menjalankan perintah-perintah Allah ‘Azza wa Jalla.
Selain itu, dari tanda kecintaan kepada Allah Subhânahu wa Ta’âla adalah mendahulukan Allah dan Rasul-Nya di atas segala perkara. Allah Jalla Sya’nuhu berfirman,
“Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat-tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan Keputusan-Nya,” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” [At-Taubah: 24]
Dari tanda kecintaan hamba kepada Allah adalah benci kepada apa yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya.
Sebab-sebab Penumbuh Cinta kepada Allah
Ibnul Qayyim rahimahullâh menyebutkan sepuluh sebab yang akan menumbuhkan dan menambah rasa cinta seorang hamba kepada Rabb-nya. Berikut sepuluh sebab tersebut.
1.      Membaca Al-Qur`ân dengan tadabbur dan memahami maknanya.
2.      Memperbanyak ibadah nafilah (sunnah) setelah menunaikan ibadah-ibadah wajib.
3.      Memperbanyak dzikir kepada Allah dalam segala keadaan.
4.      Lebih mendahulukan pelaksanaan dari apa yang dicintai oleh Allah, walaupun hal tersebut menyelishi hawa nafsunya.
5.      Membawa hati untuk mencermati nama-nama dan sifat-sifat Allah dan menelusuri taman-tamannya.
6.      Menyaksikan kebaikan, kebajikan dan nikmat-nikmat Allah kepada makhluk-Nya.
7.      Menundukkan diri di hadapan Allah Subhânahu wa Ta’âla.
8.      Berkhalwat dan bermunajad kepada-Nya di waktu malam, terkhusus pada sepertiga malam terakhir.
9.      Duduk dengan orang-orang shalih.
10.  Menghindari segala sebab yang bisa memisahkan antara hatinya dengan Allah ‘Azza wa Jalla.
Tentunya sepuluh sebab di atas bersumber dan dari berbagai keterangan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Semoga Allah menjadikan kita semua sebagai orang-orang yang senantiasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya dan beramal dengan ketaatan. Wallâhu Ta’âla A’lam.

Zakat Fitrah Sesuai Tuntunan Nabi


panduan zakat fitrah zakat fitriSeorang muslim dalam menjalankan kewajiban puasa di bulan Ramadhan acap kali melakukan hal-hal yang dapat merusak atau mengurangi kesempurnaan puasa, maka dengan hikmahNya, Allah Ta’ala mensyariatkan zakat fithri agar lebih menyempurnakan puasanya. Maka dari itu, dalam edisi kali ini merupakan hal yang sangat penting bagi kita untuk membahas dan memahami hukum-hukum yang berkaitan dengan zakat fithri. Agar ibadah yang mulia ini menjadi benar sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan diterima oleh Allah Ta’ala.
A. Makna Zakat Fithri
Zakat fithri merupakan zakat yang disyari’atkan dalam agama Islam berupa satu sho’ dari makanan (pokok) yang dikeluarkan seorang muslim di akhir bulan Romadhon, dalam rangka menampakkan rasa syukur atas nikmat-nikmat Allah dalam berbuka dari puasa Romadhon dan penyempurnaannya. Oleh karena itu dinamakan shodaqoh fithri atau zakat fithri. (Lihat Fatawa Romadhon, II/901)
B. Hikmah Disyari’atkannya Zakat Fithri
Zakat Fithri mempunyai hikmah yang banyak, diantaranya:
1. Untuk menyucikan jiwa orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia atau tidak bermanfaat dan kata-kata yang kotor.
2. Memberikan kecukupan kepada kaum fakir dan miskin dari meminta-minta pada hari raya ‘idul fithri sehingga mereka dapat bersenang-senang dengan orang kaya pada hari tersebut. Dan syari’at ini juga bertujuan agar kebahagiaan ini dapat dirasakan oleh semua kalangan masyarakat muslim.
Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam hadits berikut ini:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ
“Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan (jiwa) orang yang berpuasa dari perkara sia-sia dan perkataan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (‘Ied), maka itu adalah zakat yang diterima (oleh Allah, pen). Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat (‘Ied), maka itu adalah satu shadaqah diantara shadaqah-shadaqah”. (HR Abu Dawud, I/505 no.1609, Ibnu Majah I/585 no. 1827. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Irwa’ Al-Gholil III/333).
C. Hukum Zakat Fithri
Zakat fithri wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki atau perempuan, anak-anak atau orang dewasa, merdeka atau pun budak. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Umar radhiyallahu anhu, bahwa dia berkata:
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ عَلَى الْعَبْدِ وَالْحُرِّ وَالذَّكَرِ وَالْأُنْثَى وَالصَّغِيرِ وَالْكَبِيرِ مِنْ الْمُسْلِمِينَ وَأَمَرَ بِهَا أَنْ تُؤَدَّى قَبْلَ خُرُوجِ النَّاسِ إِلَى الصَّلَاةِ
“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri sebanyak satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum. Kewajiban itu dibebankan kepada budak, orang merdeka, laki-laki, wanita, anak kecil, dan orang tua dari kalangan umat Islam. Dan beliau memerintahkan agar zakat fithri itu ditunaikan sebelum orang-orang keluar menuju shalat (‘Ied)”. (HR Bukhari II/547 no. 1432, Muslim II/679 no. 986, dan selainnya)
Juga berdasarkan penafsiran Said bin Musayyib dan Umar bin Abdul Aziz terhadap firman Allah Ta’ala:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى
“Sungguh beruntung orang yang mensucikan dirinya.” (QS. Al A’la: 14) dengan zakat fithri.
Demikian pula ijma’ (konsensus) para ulama menetapkan wajibnya zakat fithri, sebagaimana dikatakan Ibnu Al-Mundzir: “Para ulama yang kami menghafal dari mereka telah bersepakat bahwa shadaqah (zakat) fithri itu hukumnya wajib.” (Lihat Al-Ijma’ karya Ibnu Al-Mundzir hal.49, dengan dinukil dari Shahih Fiqhus Sunnah II/79-80)
Catatan: Perlu diperhatikan bahwa ash-shogir (anak kecil) dalam hadits ini tidak termasuk di dalamnya janin. Karena ada sebagian ulama seperti Ibnu Hazm yang mengatakan bahwa janin juga wajib dikeluarkan zakatnya. Hal ini kurang tepat karena janin tidaklah disebut ash-shogir (anak kecil) dalam bahasa Arab maupun secara ‘urf (anggapan/kebiasaan orang Arab). (Lihat Shifat Shaum Nabi, hal.102). Namun jika ada yang mau membayarkan zakat fithri untuk janin (yang telah berusia empat bulan atau lebih, karena telah ditiupkan ruh padanya, pen) tidaklah mengapa, karena dahulu sahabat Utsman bin ‘Affan radhiyallahu anhu pernah mengeluarkan zakat fithri bagi janin dalam kandungan. (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, hal.381)
D. Siapakah Yang Berkewajiban Membayar Zakat Fithri?
Zakat fithri wajib ditunaikan oleh setiap orang yang telah memenuhi syarat-syarat berikut ini:
1. Beragama Islam. Sedangkan orang kafir tidak wajib untuk menunaikannya, namun mereka akan diberi sanksi di akhirat karena tidak menunaikannya.
2. Mampu mengeluarkan zakat fithri. Karena Allah Ta’ala tidaklah membebani hamba-Nya kecuali sesuai dengan kemampuannya. Allah Ta’ala berfirman:
لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (QS. Al Baqarah: 286).
Adapun batasan mampu menurut mayoritas ulama, adalah mempunyai kelebihan makanan bagi dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya pada malam dan siang hari ‘ied. Jadi apabila keadaan seseorang demikian berarti dia termasuk orang mampu dan wajib mengeluarkan zakat fitri. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ سَأَلَ وَعِنْدَهُ مَا يُغْنِيهِ فَإِنَّمَا يَسْتَكْثِرُ مِنَ النَّارِ » فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا يُغْنِيهِ قَالَ « أَنْ يَكُونَ لَهُ شِبَعُ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ أَوْ لَيْلَةٍ وَيَوْمٍ
“Barangsiapa meminta-minta sedangkan dia mempunyai sesuatu yang mencukupinya, maka sesungguhnya dia sedang memperbanyak dari api neraka (dalam riwayat lain: bara api Jahannam, pen).” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana ukuran (harta itu) mencukupi? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seukuran makanan yang mengenyangkan sehari-semalam.” (HR. Abu Daud I/512 no.1629. Dan hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohih Sunan Abu Daud.) (Lihat Shohih Fiqhis Sunnah, II/80)
Demikian pula wajib dikeluarkan zakatnya bagi setiap orang yang termasuk dalam kriteria berikut ini:
• Anak yang lahir sebelum matahari terbenam pada akhir bulan Ramadhan dan masih hidup sesudah matahari terbenam meskipun hanya beberapa saat.
• Memeluk Islam sebelum matahari terbenam pada akhir bulan Ramadhan dan tetap dalam Islamnya.
• Seseorang yang meninggal selepas terbenam matahari akhir Ramadhan.
Permasalahan: Bagaimana dengan anak dan istri yang menjadi tanggungan suami, apakah perlu mengeluarkan zakat sendiri-sendiri?
Menurut Imam Nawawi, kepala keluarga wajib membayar zakat fithri keluarganya. Bahkan menurut Imam Malik, Imam Syafi’i dan mayoritas ulama, wajib bagi suami untuk mengeluarkan zakat istrinya karena istri adalah tanggungan nafkah suami. (Syarh Nawawi ‘ala Muslim, VII/59).
Namun menurut Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, jika mereka mampu, sebaiknya mereka mengeluarkannya atas nama diri mereka sendiri, karena pada asalnya masing-masing mereka terkena perintah untuk menunaikannya. (Lihat Majelis Bulan Ramadhan, 381). Wallahu a’lam bish-showab.
E. Ukuran Zakat Fithri
Berdasarkan hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhu yang telah kita sebutkan di atas, bahwa ukuran zakat fithri yang wajib dikeluarkan adalah 1 (satu) sho’ kurma atau gandum (atau sesuai makanan pokok penduduk suatu negeri, pent). Sedangkan menurut ukuran zaman sekarang, para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan bahwa 1 (satu) sho’ sama beratnya dengan 2,157 Kg (lihat Shahih Fiqhis Sunnah II/83). Ada pula yang menetapkan bahwa 1 (satu) sho’ sama beratnya dengan 2 kg lebih 40 gram, sebagaimana hasil penelitian syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin (lihat Syarhul Mumti’, VI/176-177). Dan ada pula yang menetapkan bahwa 1 (satu) sho’ sama beratnya dengan 2,5 kg, sebagaimana yang berlaku di negara kita Indonesia. Sedangkan menurut hasil penelitian Syeikh Abdul Aziz bin Baz dan dipakai dalam fatwa Lajnah Daimah kerajaan Saudi Arabia bahwa 1 (satu) sho’ sama beratnya dengan 3 (tiga) kg. (lihat Fatawa Romadhon II/915 dan II/926) (Lihat juga Fatawa Lajnah Daimah no. 12572).
Dengan demikian, jika ada seorang muslim yang mengeluarkan zakat fithri seberat salah satu dari ukuran-ukuran tersebut di atas, maka sudah dianggap sah. Namun yang lebih baik dan lebih hati-hati adalah mengeluarkan zakat fitri seberat 3 kg. wallahu a’lam bish-showab.
F. Jenis Zakat Fithri.
Zakat fithri harus dikeluarkan dalam bentuk makanan pokok penduduk suatu negeri, baik itu berupa kurma, gandum, beras, jagung, kismis, keju, atau selainnya, dan tidak terbatas pada kurma atau gandum saja (Lihat Shohih Fiqhis Sunnah, II/82). Inilah pendapat yang nampak rajih (benar dan kuat) sebagaimana dipegangi oleh para ulama pengikut madzhab imam Malik, imam Syafi’i, dan juga merupakan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah.
G. Bolehkan Mengeluarkan Zakat Fithri dengan Uang?
Menurut pendapat mayoritas ulama, bahwa zakat fithri tidak boleh dikeluarkan dalam bentuk selain makanan pokok. Sebab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan kaum muslimin agar membayar zakat fithri dengan makanan pokok (sebagaimana telah disebutkan dalam hadits Ibnu Umar di atas). Dan ketentuan beliau ini tidak boleh dilanggar.
Oleh karena itu, tidak boleh mengganti makanan pokok dengan uang yang seharga makanan pokok tersebut dalam membayar zakat fithri karena ini berarti menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan alasan lainnya adalah:
1. Selain menyelisihi perintah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyelisihi amalan para sahabat radhiyallahu ‘anhum yang menunaikannya dengan satu sho’ kurma atau gandum (makanan pokok mereka pada saat itu, pen). Sementara dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ
“Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan tuntunanku dan tuntunan para khalifah yang lurus yang mendapat petunjuk.” (HR. Abu Daud II/610 no. 4607, dan At-Tirmidzi V/44 no. 2676)
2. Zakat fithri adalah suatu ibadah yang diwajibkan dari suatu jenis tertentu. Oleh sebab itu, posisi jenis barang yang dijadikan sebagai alat pembayaran zakat fithri itu tidak dapat digantikan sebagaimana waktu pelaksanaannya juga tidak dapat digantikan. Jika ada yang mengatakan bahwa menggunakan uang itu lebih bermanfaat. Maka kami katakan bahwa Nabi yang mensyari’atkan zakat dengan makanan tentu lebih sayang kepada orang miskin dan tentu lebih tahu mana yang lebih manfaat bagi mereka. Allah yang mensyari’atkannya pula tentu lebih tahu kemaslahatan hamba-Nya yang fakir dan miskin, tetapi Allah dan Rasul-Nya tidak pernah mensyariatkan dengan uang.
Perlu diketahui pula bahwa pada zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sudah terdapat mata uang. Tetapi beliau tidak memerintahkan para sahabatnya untuk membayar zakat fitri dengan uang? Seandainya diperbolehkan dengan uang, lalu apa hikmahnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan dengan satu sho’ gandum atau kurma? Seandainya boleh menggunakan uang, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengatakan kepada umatnya, ‘Satu sho’ gandum atau harganya.’
Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi berkata: “Zakat fithri wajib dikeluarkan dari jenis-jenis makanan (pokok, Pen), dan tidak menggantinya dengan uang, kecuali karena darurat (terpaksa). Karena, tidak ada dalil (yang menunjukkan) bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menggantikan zakat fithri dengan uang. Bahkan juga tidak dinukilkan dari seorang sahabat pun, bahwa mereka mengeluarkannya dengan uang”. (Minhajul Muslim, halaman 231).
H. Waktu Mengeluarkan Zakat Fithri.
Waktu mengeluarkan Zakat Fithri yang utama adalah sebelum manusia keluar menuju tempat sholat ‘Ied, dan boleh didahulukan satu atau dua hari sebelum hari raya ‘idul Fithri sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma. Adapun membayar zakat fithri setelah selesai melaksanakan sholat Ied, maka tidak boleh dan tidak sah. Hal ini berdasarkan hadits berikut ini:
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلَاةِ فَهِيَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلَاةِ فَهِيَ صَدَقَةٌ مِنْ الصَّدَقَاتِ
“Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan (jiwa) orang yang berpuasa dari perkara sia-sia dan perkataan keji, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Barangsiapa menunaikannya sebelum shalat (‘Ied), maka itu adalah zakat yang diterima (oleh Allah, pen). Dan barangsiapa menunaikannya setelah shalat (‘Ied), maka itu adalah satu shadaqah diantara shadaqah-shadaqah”. (HR Abu Dawud, I/505 no.1609, Ibnu Majah I/585 no. 1827. Dihasankan oleh Syaikh al-Albani di dalam Irwa’ Al-Gholil III/333).
I. Penerima Zakat Fithri
Berdasarkan pendapat yang paling rajih (kuat dan benar), bahwa yang berhak menerima zakat fithri hanyalah orang-orang fakir dan miskin saja, sedangkan 6 (enam) golongan penerima zakat lainnya (sebagaimana terdapat dalam surat At Taubah, ayat 60) tidak berhak menerimanya. Inilah pendapat yang dipegangi oleh para ulama pengikut madzhab imam Malik, dan merupakan pendapat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa (XXV/71-78), Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad (II/44). Pendapat ini dianggap lebih tepat karena lebih cocok dengan tujuan disyariatkannya zakat fithri, yaitu untuk memberi makan orang miskin sebagaimana disebutkan dalam hadits Ibnu Abbas di atas, “…sebagai makanan bagi orang-orang miskin.” (Lihat Shohih Fiqhis Sunnah, II/85)
J. Apakah Panitia Zakat (Amil) Berhak Mendapat Bagian Dari Zakat Fithri?
Panitia Zakat (Amil) yang menarik atau mengumpulkan zakat fithri dan membagikannya kepada orang-orang fakir dan miskin tidak berhak menerima atau mengambil bagian dari zakat fithri sedikit pun dengan sebab mereka sebagai pengurus atau paniti zakat, kecuali jika dia termasuk dalam golongan fakir dan miskin, maka dia berhak mendapatkan bagian dari zakat fithri tersebut.
Demikian pembahasan singkat dan global tentang permasalahan dan hukum yang berkaitan dengan zakat fithri. Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat bagi penulis dan pembacanya kita. Wallahu a’lam bish-showab.