Breaking News

Menu

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Agustus 2011

Pendidikan sebagai Investasi Jangka Panjang

Oleh : Nurkolis
Profesor Toshiko Kinosita mengemukakan bahwa sumber daya manusia Indonesia masih sangat lemah untuk mendukung perkembangan industri dan ekonomi. Penyebabnya karena pemerintah selama ini tidak pernah menempatkan pendidikan sebagai prioritas terpenting. Tidak ditempatkannya pendidikan sebagai prioritas terpenting karena masyarakat Indonesia, mulai dari yang awam hingga politisi dan pejabat pemerintah, hanya berorientasi mengejar uang untuk memperkaya diri sendiri dan tidak pernah berfikir panjang (Kompas, 24 Mei 2002).
Pendapat Guru Besar Universitas Waseda Jepang tersebut sangat menarik untuk dikaji mengingat saat ini pemerintah Indonesia mulai melirik pendidikan sebagai investasi jangka panjang, setelah selama ini pendidikan terabaikan. Salah satu indikatornya adalah telah disetujuinya oleh MPR untuk memprioritaskan anggaran pendidikan minimal 20 % dari APBN atau APBD. Langkah ini merupakan awal kesadaran pentingnya pendidikan sebagai investasi jangka pangjang. Sedikitnya terdapat tiga alasan untuk memprioritaskan pendidikan sebagai investasi jangka panjang.
Pertama, pendidikan adalah alat untuk perkembangan ekonomi dan bukan sekedar pertumbuhan ekonomi. Pada praksis manajemen pendidikan modern, salah satu dari lima fungsi pendidikan adalah fungsi teknis-ekonomis baik pada tataran individual hingga tataran global. Fungsi teknis-ekonomis merujuk pada kontribusi pendidikan untuk perkembangan ekonomi. Misalnya pendidikan dapat membantu siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk hidup dan berkompetisi dalam ekonomi yang kompetitif.
Secara umum terbukti bahwa semakin berpendidikan seseorang maka tingkat pendapatannya semakin baik. Hal ini dimungkinkan karena orang yang berpendidikan lebih produktif bila dibandingkan dengan yang tidak berpendidikan. Produktivitas seseorang tersebut dikarenakan dimilikinya keterampilan teknis yang diperoleh dari pendidikan. Oleh karena itu salah satu tujuan yang harus dicapai oleh pendidikan adalah mengembangkan keterampilan hidup. Inilah sebenarnya arah kurikulum berbasis kompetensi, pendidikan life skill dan broad based education yang dikembangkan di Indonesia akhir-akhir ini. Di Amerika Serikat (1992) seseorang yang berpendidikan doktor penghasilan rata-rata per tahun sebesar 55 juta dollar, master 40 juta dollar, dan sarjana 33 juta dollar. Sementara itu lulusan pendidikan lanjutan hanya berpanghasilan rata-rata 19 juta dollar per tahun. Pada tahun yang sama struktur ini juga terjadi di Indonesia. Misalnya rata-rata, antara pedesaan dan perkotaan, pendapatan per tahun lulusan universitas 3,5 juta rupiah, akademi 3 juta rupiah, SLTA 1,9 juta rupiah, dan SD hanya 1,1 juta rupiah.
Para penganut teori human capital berpendapat bahwa pendidikan adalah sebagai investasi sumber daya manusia yang memberi manfaat moneter ataupun non-moneter. Manfaat non-meneter dari pendidikan adalah diperolehnya kondisi kerja yang lebih baik, kepuasan kerja, efisiensi konsumsi, kepuasan menikmati masa pensiun dan manfaat hidup yang lebih lama karena peningkatan gizi dan kesehatan. Manfaat moneter adalah manfaat ekonomis yaitu berupa tambahan pendapatan seseorang yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan tertentu dibandingkan dengan pendapatan lulusan pendidikan dibawahnya. (Walter W. McMahon dan Terry G. Geske, Financing Education: Overcoming Inefficiency and Inequity, USA: University of Illionis, 1982, h.121).
Sumber daya manusia yang berpendidikan akan menjadi modal utama pembangunan nasional, terutama untuk perkembangan ekonomi. Semakin banyak orang yang berpendidikan maka semakin mudah bagi suatu negara untuk membangun bangsanya. Hal ini dikarenakan telah dikuasainya keterampilan, ilmu pengetahuan dan teknologi oleh sumber daya manusianya sehingga pemerintah lebih mudah dalam menggerakkan pembangunan nasional.
Nilai
Balik Pendidikan
Kedua, investasi pendidikan memberikan nilai balik (rate of return) yang lebih tinggi dari pada investasi fisik di bidang lain. Nilai balik pendidikan adalah perbandingan antara total biaya yang dikeluarkan untuk membiayai pendidikan dengan total pendapatan yang akan diperoleh setelah seseorang lulus dan memasuki dunia kerja. Di negara-negara sedang berkembang umumnya menunjukkan nilai balik terhadap investasi pendidikan relatif lebih tinggi dari pada investasi modal fisik yaitu 20 % dibanding 15 %. Sementara itu di negara-negara maju nilai balik investasi pendidikan lebih rendah dibanding investasi modal fisik yaitu 9 % dibanding 13 %. Keadaan ini dapat dijelaskan bahwa dengan jumlah tenaga kerja terdidik yang terampil dan ahli di negara berkembang relatif lebih terbatas jumlahnya dibandingkan dengan kebutuhan sehingga tingkat upah lebih tinggi dan akan menyebabkan nilai balik terhadap pendidikan juga tinggi (Ace Suryadi, Pendidikan, Investasi SDM dan Pembangunan: Isu, Teori dan Aplikasi. Balai Pustaka: Jakarta, 1999, h.247).
Pilihan investasi pendidikan juga harus mempertimbangkan tingkatan pendidikan. Di Asia nilai balik sosial pendidikan dasar rata-rata sebesar 27 %, pendidikan menengah 15 %, dan pendidikan tinggi 13 %. Dengan demikian dapat dikemukakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka manfaat sosialnya semakin kecil. Jelas sekali bahwa pendidikan dasar memberikan manfaat sosial yang paling besar diantara tingkat pendidikan lainnya. Melihat kenyataan ini maka struktur alokasi pembiayaan pendidikan harus direformasi. Pada tahun 1995/1996 misalnya, alokasi biaya pendidikan dari pemerintah Indonesia untuk Sekolah Dasar Negeri per siswa paling kecil yaitu rata-rata hanya sekirat 18.000 rupiah per bulan, sementara itu biaya pendidikan per siswa di Perguruan Tinggi Negeri mendapat alokasi sebesar 66.000 rupiah per bulan. Dirjen Dikti, Satrio Sumantri Brojonegoro suatu ketika mengemukakan bahwa alokasi dana untuk pendidikan tinggi negeri 25 kali lipat dari pendidikan dasar. Hal ini menunjukkan bahwa biaya pendidikan yang lebih banyak dialokasikan pada pendidikan tinggi justru terjadi inefisiensi karena hanya menguntungkan individu dan kurang memberikan manfaat kepada masyarakat.
Reformasi alokasi biaya pendidikan ini penting dilakukan mengingat beberapa kajian yang menunjukkan bahwa mayoritas yang menikmati pendidikan di PTN adalah berasal dari masyarakat mampu. Maka model pembiayaan pendidikan selain didasarkan pada jenjang pendidikan (dasar vs tinggi) juga didasarkan pada kekuatan ekonomi siswa (miskin vs kaya). Artinya siswa di PTN yang berasal dari keluarga kaya harus dikenakan biaya pendidikan yang lebih mahal dari pada yang berasal dari keluarga miskin. Model yang ditawarkan ini sesuai dengan kritetia equity dalam pembiayaan pendidikan seperti yang digariskan Unesco.
Itulah sebabnya Profesor Kinosita menyarankan bahwa yang diperlukan di Indonesia adalah pendidikan dasar dan bukan pendidikan yang canggih. Proses pendidikan pada pendidikan dasar setidaknnya bertumpu pada empat pilar yaitu learning to know, learning to do, leraning to be dan learning live together yang dapat dicapai melalui delapan kompetensi dasar yaitu membaca, menulis, mendengar, menutur, menghitung, meneliti, menghafal dan menghayal. Anggaran pendidikan nasional seharusnya diprioritaskan untuk mengentaskan pendidikan dasar 9 tahun dan bila perlu diperluas menjadi 12 tahun. Selain itu pendidikan dasar seharusnya “benar-benar” dibebaskan dari segala beban biaya. Dikatakan “benar-benar” karena selama ini wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah tidaklah gratis. Apabila semua anak usia pendidikan dasar sudah terlayani mendapatkan pendidikan tanpa dipungut biaya, barulah anggaran pendidikan dialokasikan untuk pendidikan tingkat selanjutnya.
Fungsi
Non Ekonomi
Ketiga, investasi dalam bidang pendidikan memiliki banyak fungsi selain fungsi teknis-ekonomis yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya, dan fungsi kependidikan. Fungsi sosial-kemanusiaan merujuk pada kontribusi pendidikan terhadap perkembangan manusia dan hubungan sosial pada berbagai tingkat sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan dirinya secara psikologis, sosial, fisik dan membantu siswa mengembangkan potensinya semaksimal mungkin (Yin Cheong Cheng, School Effectiveness and School-Based Management: A Mechanism for Development, Washington D.C: The Palmer Press, 1996, h.7).
Fungsi politis merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan politik pada tingkatan sosial yang berbeda. Misalnya pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan sikap dan keterampilan kewarganegaraan yang positif untuk melatih warganegara yang benar dan bertanggung jawab. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mengerti hak dan kewajibannya sehingga wawasan dan perilakunya semakin demoktratis. Selain itu orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran dan tanggung jawab terhadap bangsa dan negara lebih baik dibandingkan dengan yang kurang berpendidikan.
Fungsi budaya merujuk pada sumbangan pendidikan pada peralihan dan perkembangan budaya pada tingkatan sosial yang berbeda. Pada tingkat individual, pendidikan membantu siswa untuk mengembangkan kreativitasnya, kesadaran estetis serta untuk bersosialisasi dengan norma-norma, nilai-nilai dan keyakinan sosial yang baik. Orang yang berpendidikan diharapkan lebih mampu menghargai atau menghormati perbedaan dan pluralitas budaya sehingga memiliki sikap yang lebih terbuka terhadap keanekaragaman budaya. Dengan demikian semakin banyak orang yang berpendidikan diharapkan akan lebih mudah terjadinya akulturasi budaya yang selanjutnya akan terjadi integrasi budaya nasional atau regional.
Fungsi kependidikan merujuk pada sumbangan pendidikan terhadap perkembangan dan pemeliharaan pendidikan pada tingkat sosial yang berbeda. Pada tingkat individual pendidikan membantu siswa belajar cara belajar dan membantu guru cara mengajar. Orang yang berpendidikan diharapkan memiliki kesadaran untuk belajar sepanjang hayat (life long learning), selalu merasa ketinggalan informasi, ilmu pengetahuan serta teknologi sehingga terus terdorong untuk maju dan terus belajar.
Di kalangan masyarakat luas juga berlaku pendapat umum bahwa semakin berpendidikan maka makin baik status sosial seseorang dan penghormatan masyarakat terhadap orang yang berpendidikan lebih baik dari pada yang kurang berpendidikan. Orang yang berpendidikan diharapkan bisa menggunakan pemikiran-pemikirannya yang berorientasi pada kepentingan jangka panjang. Orang yang berpendidikan diharapkan tidak memiliki kecenderungan orientasi materi/uang apalagi untuk memperkaya diri sendiri.
Kesimpulan
Jelaslah bahwa investasi dalam bidang pendidikan tidak semata-mata untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi tetapi lebih luas lagi yaitu perkembangan ekonomi. Selama orde baru kita selalu bangga dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, namun pertumbuhan ekonomi yang tinggi itu hancur lebur karena tidak didukung oleh adanya sumber daya manusia yang berpendidikan. Orde baru banyak melahirkan orang kaya yang tidak memiliki kejujuran dan keadilan, tetapi lebih banyak lagi melahirkan orang miskin. Akhirnya pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati sebagian orang dan dengan tingkat ketergantungan yang amat besar.
Perkembangan ekonomi akan tercapai apabila sumber daya manusianya memiliki etika, moral, rasa tanggung jawab, rasa keadilan, jujur, serta menyadari hak dan kewajiban yang kesemuanya itu merupakan indikator hasil pendidikan yang baik. Inilah saatnya bagi negeri ini untuk merenungkan bagaimana merencanakan sebuah sistem pendidikan yang baik untuk mendukung perkembangan ekonomi. Selain itu pendidikan juga sebagai alat pemersatu bangsa yang saat ini sedang diancam perpecahan. Melalui fungsi-fungsi pendidikan di atas yaitu fungsi sosial-kemanusiaan, fungsi politis, fungsi budaya, dan fungsi kependidikan maka negeri ini dapat disatukan kembali. Dari paparan di atas tampak bahwa pendidikan adalah wahana yang amat penting dan strategis untuk perkembangan ekonomi dan integrasi bangsa. Singkatnya pendidikan adalah sebagai investasi jangka panjang yang harus menjadi pilihan utama.
Bila demikian, ke arah mana pendidikan negeri ini harus dibawa? Bagaimana merencanakan sebuah sistem pendidikan yang baik? Marilah kita renungkan bersama.

Pendidikan Menurut Lukman Hakim


Oleh: Mufarrihul Hazin
A. Pendahuluan

Didalam islam, pendidikan anak menempati posisi yang sangat penting. Halini dapat dibuktikan dengan banyaknya ayat-ayat Al-Qu’an maupun hadits yang membahas tentang pentingnya pendidikan anak, antara lain:

Abdullah nashih ulwan menyatakan bahwa islam telah membebani orang tua suatu tanggungjawab yang sangat besar didalam mendidik anak. Bahkan mengancam mereka dengan adzab yang berat, jika melakukan pengkhianatan dan menepelekan tanggungjawab pendidikan tersebut.
Dalam rangka menjalankan perintah Allah SWT dan rasulullah untuk mendidik anak, maka setiap orang tua muslim membutuhkan suatu pedoman untuk mendidik putra-puri mereka agar tumbuh menjadi seorang muslim atau muslimah yang dikenal dengan istilah insane kamil. Sedangkan pedoman utama dalam pendidikan anak bagi umat islam adalah A-qur’an dan al-hadits.
Menurut hemat penulis, diantara ayat-ayat Al-Qu’an yang dapat dijadikan sebagai pedoman dalam mendidik anak adalah wasiat-wasiat luqman al-hakim kepada putranya yang ada dalam surat luqman ayat 12-19. Luqman al-Hakim merupakan salah satu suri tauladan diantara para bapak yang sangat memperhatikan pendidikan anak. Baik pendidikan ruhiyah maupun jismiyah, mental maupun badan. Bahkan namanya menjadi salah satu nama surat di dalam Al-Qu’an. Oleh karena itu, penulis tertarik dan bermaksud untuk menuliskan konsep pendidikan luqman ini berdasarkan keterangan yang disampaikan oleh para mufassir dan para tokoh pendidikan islam

B. Pengertian Pendidikan Anak
1. Definisi pendidikan
Para ahli pendidikan islam belum menemui kata sepakat dalam definisi “Pendidikan” menurut perspektif islam, hal ini disebabkan oleh: pertama, banyaknya jenis kegiatan yang dapat disebut kegiatan pendidikan; kedua, luasnya aspek yang dibina dalam pendidikan.
Pengertian pendidikan menurut islam adalah keseluruhan pengertian yang terkandung dalam istilah al-ta’dib, al-ta’lim dan al-tarbiyah .
Menurut Abdurrahman al-nahlawai pendidikan islam adalah pengaruh pribadi dan masyarakat yang karenanya dapat memeluk islam sacara logis dan sesuai secara keseluruhan, baik dalam kehidupan individu maupun kolektif .
2. Pengertian anak
Dalam kamus besar bahasa indonesia, pengertian anak mencakup delapan arti, yaitu
Sedangkan menurut pandangan islam eksistensi anak dalam keluarga ditampilkan Al-Qu’an dalam fungsi dan peran yang variatif. Keberadaan anak dalam keluarga mengandung banyak sisi yang harus menjadi perhatian orang tua. Ada 4 macam tipologi anak menurut Al-Qu’an, yaitu: (1) anak sebagi penentram jiwa (qurrat al-a’yun); (2) anak sebagai cobaan dan fitnah; (3) anak sebagai perhiasan hidup di dunia; (4) anak sebagai musuh orang tua .

C. Tujuan Pendidikan Anak Menurut Lukman Al-Hakim
Dari beberapa tinjauan munasah (keterkaintan) dalam surat luqman ayat 12-19 dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan luqman pada mulanya adalah membentuk manusia yang mentauhidkan Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apupun juga. Ketauhidan kepada Allah selanjutnya memiliki beberapa konsekuensi sebagaimana yang dikemukakan ole K.H Hasyim Asy’ari sebagai berikut :
Ketauhidan mewajibkan adanya keimanan, maka barang siapa yang tidak mempunyai keimanan berarti ia tidak mempunyai ketauhidan. Keimana mewajibkan pelaksanaan syari’at, maka barang siapa yang tidak melaksanakan syari’at, berarti dia tidak mempunyai keimanan. Pelaksanaan syari’at mewajibkan adanya adab (akhlaq) maka barang siapa tidak mempunyai akhlaq, berarti dia tidak mempunyai syari’at, keimanan dan ketauhidan dalam dirinya .

Berdasarkan keterangan tersebut bahwa tujuan pendidikan menurut luqman adalah membentuk manusia yang beriman, islam dan berakhlaq, karena ketiga-tiganya merupakan satu-kesatuan yang terpadu dan tidak dapat dipisahkan antara yang saTu dengan yang lainnya.

1. Membentuk Pribadi Yang Beriman
Tujuan untuk membentuk pribadi islam diwakili oleh ayat 13-16. Pada ayat 13 luqman melarang putranya untuk menyekutukan Allah SWT. Kemudian disusul dalam penghujung ayat 14 yang menjelasakan tentang pasti adanya hari akhir, seedangkan dalam penghujung ayat 15 menerangkan adanya hari pembalasan. Meskipun posisi ayat14-15 sebagai ayat penyela, namun menurut Imam Al-Thabari kandungan kedua ayat ini selaras dengan materi dan tujuan pendidikan luqman.
Tujuan membentuk pribadi yang beriman juga tampak dalam ayat 16 yang menunjukan sifat-sifat Allah SWT. Dari sini sudah jelas bahwa tujuan luqman mendidik putranya adalah agar mempunyai keimanan yang kuat dan kokoh dengan cara mentauhidkan Allah, iman pada hari akhir dan mengetaui sifat-sifat Allah SWT serta maha mengetahui dan maha kuasa-Nya.
2. Membentuk Pribadi Yang Islam
Tujuan untuk membentuk pribadi islam diwakili oleh ayat 17, yakni perintah sholat. Dr. Wahba Zuhaili menafsiri ayat ini sebagi berikut : ayat ini adalah perintah untuk melakukan amal shalih yang dapat menetapkan ketauhidan, yakni shalat yang dilaksanakan secara ikhlas semata-mata karena Allah SWT; mendirikan shalat dengan menyempurnkan ketentuan, rukan dan syaratnya karena shalat adalah tiang agama dan bukti keimanan kepada Allah sebagai lantaran taqarrub kepada-Nya maka shalat tersebut dapat membantu untuk menjauhi keji dan mungkar serta membersikan hati .
Selain itu, dalam ayat 17 juga luqman memerintah putranya untuk melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, karena perintah ini membawa beberapa konsekuensi, yaitu: menyuruh mengerjakan ma’ruf, mengandung pesan untuk mengerjakannya. Karena tidak wajar kalau menyuruh tapi dirinya sendiri tidak mengerjakannya. Demikian juga melarang, menuntuk agar yang melarang tersebut untuk menjauhkan dirinya dari yang mungkar tersebut. Itulah mengapa luqman tidak memerintahkan anaknya untuk melaksanakan ma’ruf dan menjauhi yang mungkar, tetapi memerintahkan amar ma’ruf nahi mungkar. Disisi lain, membiasakan anak melaksanakan tuntutan ini menimbulkan dalam dirinya jiwa kepemimpinan dan kepedul;ian sosial . Dengan demikian perintah amar ma’ruf nahi mungkar ini, bertujuan menbentuk manusia yang islam sekaligus ihsan, yaitu pribadi yang shalih dan berusaha membuat orang shalih.


3. Membentuk Pribadi Ihsan
Tujuan membentuk manusia yang ihsan juga terdapat pada ayat 17 yaitu memerintahkan untuk bersabar. Kemudian dalam pendidikan luqman ini, materi akhlaq yang dibidik adalah syukur, berbakti pada orang tua, muraqabah, sabar, tawadu’ dan bersikap sederhana. Penerapan akhlaq-akhlq terpuji ini dalam keseharian diharapakan dapat menjadikan golongan muhsinun (orang-orang baik).
Dari beberapa argument yang kuat bahwa pendidikan luqman bertujuan untuk membentuk muslim sejati, yaitu orang musli yang mempunyai keimanan yang kokoh, kemudian keimanan tersebut dibuktikan dengan amal shalih dan akhlaq terpuji baik kepada Allah maupun kepada sesame makhluk-Nya.
Sebagai bahan perbandingan, berikut ini penulis sajikan pendapat tokoh tentang tujuan pendidikan. Menurut Imam Al-Ghazali tujuan pendidikan akhir ada dua, yaitu tercapainya kesempurnaan insane yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah SWT dan kesempurnaan insan yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Tujuan ini tampak bernuansa religius dan moral serta tidak mengabaikan masalah duniawi.
D. Materi Pendidikan Anak Menurut Lukman Al-Hakim
Materi pendidikan luqman al-hakim dalam surat luqman ayat 12-19 sangat perlu untuk diperhatikan. Ibnu asyur berpendapat bahwa nasihat lukman itu menyangkut masalah syaria’ yaitu : aqidah, amal, etika sosial, etika pribadi . Sedangkan wahba zuhaili berpendapat bahwa wasiat luqman kepada putranya disini memuat pokok-pokok aqidah, syariah dan akhlaq. Jadi materi utama pendidikan luqman adalah iman, islam dan ihsan.
1. Materi Keimanan
1.1. Mentauhidkan Allah Dan Jangan Menyekutukan-Nya
Materi ketauhidan dalam pendidikan luqman tertera dalam ayat 13, yakni larangan untuk berbuat syirik yang berimplikasi pada perintah untuk mentauhidkan Allah SWT. Materi ketauhidan merupakan pokok keimanan dalam islam, bahkan ketauhidan Allah itu diakui oleh segala golongan (firqah) di lingkuang islam .
Menurut para mutakkallimin (ulama’ ahli kalam) ke-Esa-an Allah itu menyakup tiga macam kategori:
1.1.1.1 Wahdaniyah Al-Dzat (ke-esa-an dzat-Nya) artinya : Dzat Allah tidak terdiri dari komponen-kompone atau dari kesatuan oknum.
1.1.1.2 Wahdaniyah Al-Shifat (ke-esa-an dalam sifat-Nya) artinya : tidak ada yang menyamai sifat-sifat Allah SWT.
1.1.1.3 Wahdaniyah Al-Af’al (Ke-esa-an dalam karya-Nya) artinya: Allah SWT tidak perlu mitra kerja dan tidak ada yang dapat menyamai karya-Nya .
1.2. Beriman Pada Hari Akhir
Materi keimanan juga terdapat dalam penghujung ayat 14-15 yang menceritakan adanya hari akhir ( ) serta tentang adanya hari hisab. Materi keimanan tersebut secara implicit juga menyangkut hal-hal yang terjadi dalam kehidupan akhirat nanti, seperti kebangkitan dari kubur, berkumpul dipadang mahsyar, adanya mizan, shirat, surga dan neraka.
Perintah beriman kepada Allah yang diikuti dengan iman pada hari akhir sering kali digunakan dalam Al-Qu’an, antara lain: Surat Al-Baqarah : 177; Ali-Imran : 114; Al-Nisa’: 49,162; Al-Maidah: 69; Al-An’am : 92; Al-Taubah : 44; Al-Mujadalah : 22 Dan Al-Thalaq : 2 .
1.3. Pengenalan Nama-Nama Allah dan Contoh Kekuasaan-Nya
Materi keimanan dalam surat luqman ayat 12-19 juga mencakup pengenalan beberapa nam Allah SWT (ayat 16). Nama-nama Allah yang tertera dalam ayat 16 ( ) merupakan bagian dari al-asma al-husna yang berjumlah 99 yang disarikan dari Al-Qu’an, hadits shahih maupun ijma’ .
Materi pendidikan keimanan selanjutnya disempurnakan dengan men-datangkan contok kekuasaan Allah SWT (ayat 16) yang berkuasa untuk mendatangkan setiap amalan, sekecil apapun dan terletak di tempat tersembunyi sekalipun.
2. Materi Keislaman
2.1 Perintah Mendirikan Shalat
Materi pendidikan tentang keislaman atau ibadah dalam surat luqman ayat 12-19 diwakili oleh ayat 17 tentang perintah mendirikan shalat.
Abu hayyan mengaitkan materi keislaman dengan materi keimanan sebelumnya sebagai berikut : setelah luqman melarang putranya untuk berbuat syirik kepada Allah SWT, lalu memberitahukan tentang sifat ‘ilmu dan qudrat-Nya, selanjutnya luqman memerintahkan putranya untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah. Luqman memulai dengan ketaatan yang paling utama yaitu shalat kemudian dilanjutka dengan amar ma’ruf nahi mungkar dan perintah sabar .
2.2 Melakukan yang Ma’ruf dan Meninggalkan yang Mungkar
Materi pendidikan keislaman juga tercermin dalam perintah amar ma’ruf nahi mungkar. Sebagaimana keterangan sebelumnya, perintah amar ma’ruf nahi mungkar ini membawa beberapa konsekuensi, yang salah satunya adalah orang yang bersangkutan harus mengerjakan yang ma’ruf dan meninggalkan yang mungkar terlebih dahulu.
3. Materi Ihsan
3.1 Ihsan dan Akhlaq Pada Allah
3.1.1 Bersyukur Pada Allah SWT
Materi pendidikan ihsan atau akhlaq yang terdapat dalam surat luqman ayat 12-19 merupukan hal-hal yang dinilai paling penting. Dalam ayat 14 trdapat materi akhlaq kepada Allah, yaitu perintah bersyukur kepada Allah SWT. Adapu pengertian syukur itu sendiri adalah bersekutunya dua kepemilikan. Menurut pendapat yang lai, syirik adalah suatu perkara dimiliki oleh dua pihak atau lebih, baik secara fisik maupun non fisik.
3.1.2 Berbakti Kepada Orang Tua
Setelah Allah menyebutkan isi wasiat luqman kepada putranya, yaitu bersyukur dan melarang berbuat syirik, selanjutnya Allah SWT mengikutinya dengan wasiat kepada anak agar berbakti kepada kedua orang tuanya, karena mereka berdua adalaha sebah adanya dia di dunia. sebagaimana yang disebutkan dalam Al-qu’an:

Musthafa Al-Maraghi menafsiri ayat ini sebagai berikut: kami mengikat janji kepadanya (setiap mausia) agar dia bersyukur kepadaku atas segala ni’mat yang telah aku anugrahkan kepadamu. Serta berterima kasih kepada kedua orang tuanya karena mereka merupakan sebab keberadaanmu, yang memperbaiki pendidikanmu dan mengasuhmu dengan senantiasa menanggung beban sampai kamu dewasa .
3.2 Ihsan Dan Akhlaq Pada Orang Lain
3.2.1 Tawadu’
Tafsir ayat ini adalah dan janganlah engkau memalingkan mukamu dari orang lain, janganlah engkau angkuh dan sombong kepada mereka sebagaiman yang dilakukan olrh oaring yang terbujuk, namun hendaklah engkau lemah lembut dan rendah hati (tawadu’)
Sikap tawadhu’ juga ditunjukan dengan cara tidah bersikap angkuh ketika berjalan sebagaimana ayat sesudahnya:
3.2.2 Amar Ma’ruf Nahi Mungkar
Musthafa Al-Maraghi setelah luqman memrintahkan putranya menyempurnakan dirinya sendiri dengan memenuhi hak-hak Allah SWT, selanjutnya diikuti dengan penyempurnaan untuk orang lain, melalui amar ma’ruf nahi mungkar .
Ma’ruf dan mungkar sudah menjadi kesepakatan umum untuk masyarakat, maka sudah sewajarnya jika ma’ruf itu diperintah dan mungkar itu dicegah, demi menjaga keutuhan masyarakat dan keharmonisanya.
3.3 Ihsan Dan Ahklaq Pada Diri Sendiri
3.3.1 Bersabar
Menurut Sayyid Tanthawai, tafsir ayat tersebut adalah bersabarlah atas kesulitan yang menimpamu. Kerena sesungguhnya kehidupan ini dipenuhi dengan kesulitan-kesulitan dan fitnah, karena kehidupan yang sejahtera hanya ada di surga semata .
Wahbah zuhaili berkata: ayat diatas adalah perintah agar bersabar dalam menghadapi musibah, kesulitan dan kesakitan yang dialami. Salah satunya adalah bersabar ketika melakukan nahi mungkar, karena merubah kemungkaran terkadang mendatangkan kesakitan bagi orang yang melakukannya .
Jadi wasiat luqman ini dimulai dengan shalat, lalu menutuonya dengan sabar, karena keduanya adalah media memohon pertolongan kepada Allah SWT. Sebagaiman firman Allah :
3.3.2 Sederhana
“Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (Q.S. 31: 19). Di bagian akhir nasehat Luqman kepada anaknya adalah hasungan untuk bertindak-tanduk dan bertutur kata yang sopan dan sederhana. Mengapa sikap tersebut demikian penting? Tidak lain karena sikap sederhana menghindarkan manusia dari iri dengki yang membawa permusuhan. Bukankah banyak permasalahan hidup yang timbul gara-gara dipicu sikap atau tutur-kata yang berlebih-lebihan dan menyakitkan
Sebagai bahan Perbandingan terhadap materi pendidikan menurut luqman ini, penulis sajikan pendapat tokoh ternama, yaitu ibn miskawai. Ibnu miskawai menyebutkan ada tiga hal pokok yang menjadi materi pendidikan, yaitu: pertama hal-hal yang wajib bagi kebutuhan tubuh manusia. Seperti shalat, puasa, dll. Kedua hal-hal yang wajib bagi jiwa, seperti aqidah yang benar, mentauhidkan Allah, dll. Ketiga hal-hal yang wajib bagi hubungannya dengan sesama manusia. Seperti ilmu mu’amalat, pertanian, pernikahan, dll .

E. Metode Pendidikan Anak Menurut Lukman Al-Hakim
1. Metode Keteladanan
Metode keteladanan yang diterapkan oleh luqman ini berdasarkan pemahan terhadap penafsiran al-biqa’I yang menyatakan bahwa pengertian hikmah adalah ilmu yang diperkuan oleh amal dan amal yang didukung dengan ilmu . Dengan demikin, materi pendidikan yang diberikan oleh luqman kepada putranya, sudah tentu dilandasi dengan ilmu dan sudah diamalkan.
Penggunaan metode keteladanan disebabkan oleh faktor psikologis bahwa murid-murid itu cendrung meneladani atau mencontoh pendidiknya. Dan hal ini sudah diakui oleh semua ahli pendidikan, baik dari barat maupun dari timur . Bahkan menurut Abdullah Nasih ‘ulwan berkesimpulan bahwa metode keteladanan adalah metode yang paling berpengaruh dan terbukti paling berhasil dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual dan etos sosial anak didik .
2. Metode Mau’idzah
Metode nasihat yang dipakai oleh luqman berdasarkan pemahan terhadap ayat 13, yaitu pada lafadz……. Metode mau’idzah dalam pendidikan luqman ini diterapkan dengan penuh kasih sayang sebagaimana pemahaman terhadap panggilan mesra luqman pada anaknya. Penggunaan fiil mudhari’ mengisyaratkan bahwa mau’idzah itu seharusnya dilakukan terus-menerus, dari waktu ke waktu .
Al-Mawardi menyampaikan bahwa seorang pendidik harus tampil sebagai penyayang, menurutnya secara psikologis, setiap manusia lebih suka diperlukan dengan carayang lembut dan halus dari pada diperlakukan secara keras dan kasar .
Ada kunci sukses menetapkan metode nasihat ini, yaitu: pertama, yang member nasihat merasa terlibat dalam isi nasihat itu. Kedua, yang member nasihat harus merasa prihatin terhadap orang yang dinasihati. Ketiga, yang menasihati harus ikhlas. Keempat, nasihat harus dilakukan secara berulang-ulang .
3. Metode Diskusi (Hiwar)
Metode diskusi yang digunakan luqman dalam pendidikannya berdasarkan beberapa argumentasi yang diberikan oleh luqman, seperti pada ayat 13 ketika luqman melarang putranya untuk menyekutukan Allah SWT, sudah tentu dalam benak putranya terbesit sebuah pertanyaan “wahai ayah, mengapa aku tidak boleh menyekutuka Allah?” luqman pun menjawab: “ karena sesungguhnya syirik adalah kedzaliman yang amat besar”.
Menurut Ibnu Sina, metode diskusi dapat dilakukan dengan cara penyajian pelajaran kepada siswa yang dihadapakan pada suatu masalah yang dapat berupa pertanyaan yang bersifat problematic untuk dibahas dan dipecahkan bersama. Ibnu sina menggunakan metode ini untuk pengajaran penetahuan yang bersifat rasional dan teoritis .
4. Metode Perumpamaan
Dalam surat luqman ayat 12-19 ada dua bentuk perumpamaan yaitu, ayat 16 dan ayat 19. Pada ayat 16 ada contoh (tamtsil) untuk menjelaskan tentang keluasan ilmu Allah SWT, yang meliputi segala sesuatu , baik yang besar maupun yang kecil, yang agung maupun yang hina, dan Allah maha mengetahui terhadap sesuatu yang paling kecil dan berada di tempat paling tersembunyi. Sedangkan ayat 19 adalah isti’arah tamtsiliyah, yaitu menyerupakan orang-orang yang mengeraskan suaranya (dengan berlebih-lebihan) dengan keledai .
Penggunaan metode amtsal ini mempunyai beberapa kelebihan sebagaiman paparan al-nahlawi berikut ini: pertama, mempermudah memahami konsep yang abstrak. Kedua, perumpamaan dapat merangsang kesan terhadap makna yang tersirat dalam perumpamaan tersebut. Ketiga, perumpamaan sebagai metode pendidikan harus logis, dapat dipahami dan memperjelas konsep. Keempat, amtsal Al-Qu’an dan nabawi memberi motivasi kepada pendengar untuk berbuat baik dan menjauhi kejahatan. Jelas hal ini amat penting dalam pendidikan islam .



F. Penutup

Berdasarkan beberapa paparan diatas, penulis memperole beberapa kesimpulan terkait dengan pendidikan anak menurut luqman al-hakim yang terdapat dalam surat luqman ayat 12-19, sebagai berikut:
1. Tujuan pendidikan luqman adalah membentuk pribadi yang mempunyai aqidah dan imam yang kokoh, islam yang benar dengan bukti gemar beribadah serta ihsan yang konprehensif, yaitu berakhlaq terpuji kepada Allah SWT, kedua orang tua, orang lain dan diri sendiri. Sehingga menjadi insan kamil, yaitu shalih secara spiritual dan sosial sekaligus.
2. Materi pendidikan luqman mencakup dasar-dasar aqidah dan keimanan (menjauhi syiruk, iman pada hari akhir dan mengetahui nama-nama Allah), dasar-dasar ibadah (shalat dan berbuat ma’ruf), serta dasar-dasar akhlak terpuji, baik kepada Allah SWT (bersyukur dengan cara bertaqwa kepada-Nya), kepada orang tua (berbakti dan mempergauli mereka dengan baik), kepada diri sendiri (bersikap sabar dan sederhana), kepada orang lain (amar ma’ruf nahi mungkar dan bersikap tawadhu’ serta tidak angkuh dan sombong)
3. Metode yang digunakan luqman mencakup beberapa metode yang terbukti sukses hingga saat ini, yaitu metode keteladanan melalui keyakinan, perkataan dan perbuatan, metode mau’idzah yang diberikan secara lemah lembut dan disertai dengan peringatan serta terus-menerus, metode diskusi (hiwar) melaui argumentasi yang benar dan meyakinkan, dan metode amtsal (perumpamaan) dengan mendatangkan contoh-contoh yang mudah difahami.


DAFTAR PUSTAKA


Tafsir, Ahmad, 2005, Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam, Bandung: Remaja Rosdakarya
‘Ulwan, Abdullah Nasih, 1978, Tarbiyah Al-Aulad Fi Islam, Bairut: Dar Al-Salam.
Shabuni, Ali Al-, 2001, Shafwah Al-Tafsir, Bairut: Dar Al-Jil.
Nata, Abudin, 2003, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan, Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.
Tanthawi, Sayyid, 1998. Al-Tafsir Al-Washit Li Al-Qu’an Al-Karim, Bairut: Dar Al-Fikr.
Zuhaili, Wahbah, 2000, Al-Tafsir Al-Wasith, Damaskus: Dar Al-Fikr
Al-Maraghi, Ahmad Musthafa, 1974, Tafsir Al-Maraghi, Bairut: Dar Al-Fikr
Shihab, Quraish, 2006, Tafsir al-Misbah, Jakarta: Lentera Hati
‘Asyur, Muhamad Al-Thahir Ibn, Tafsir Al-Tahrir Wa Al-Tanwir, Tunis: Dar Suhun
Zuhaili, Wahbah,1998,Al-Tafsir Al-Munir, Bairut:Dar Al-Fikr Al-Mu’ashir
Uhbiyati, Nur, 1998, Ilmu Pendidikan Islam, Bandung: Pustaka Setia
Sofyan, Sori, 2006, Kesalehan Anak Didik, Yogyakarta: Fajar Pustaka

Tokoh-Tokoh Pendidikan

Tokoh Pendidikan

Zainal Abidin Bin Ahmad ( ZA’BA )Pendeta Yang Bersemangat Waja.
pk11_3_2f
ZA’BA merupakan seorang tokoh cendekiawan dan patriot Melayu yang ulung dan yang amat prihatin terhadap masalah umat Melayu dalam pelbagai bidang terutama bahasa, pendidikan, agama dan ekonomi.
Dilahirkan pada 16 September 1895 dan dibesarkan di Negeri Sembilan. Beliau merupakan anak Melayu pertama di Negeri Sembilan yang menduduki peperiksaan Senior Cambridge pada tahun 1915 dan memperolehi keputusan yang cemerlang, malah beliau menjadi pelajar yang mendapat markah tertinggi dalam Ilmu Hisab, karangan Bahasa Inggeris dan Geografi Fizikal.
Beliau mula bergiat dalam bidang penulisan semasa bertugas sebagai guru pada tahun 1916 dan mengajar bahasa Melayu di beberapa buah sekolah di Johor dan Perak. Beliau telah menghasilkan beberapa majalah berbahasa Melayu seperti Utusan Melayu, Lambaga Melayu dan Pengasuh yang memperjuangkan nasib dan masa depan orang Melayu. Selain itu, beliau turut menghasilakn dua buah karya klasiknya tentang seni karangan dan tatabahasa Melayu, iaitu Ilmu Mengarang Melayu (1927) dan Pelita Bahasa(1934).  ZA’BA merupakana seorang pemikir, pejuang dan penulis yang prolifik. Beliau menghasilkan karyanya dengan menggunkan bahasa Melayu dan Inggeris. Beliau juga turut berjaya menghasilkan ratusan makalah dan tidak kurang daripada 20 judul buku, termasuk Canai Bacaan(1924) dan Umbi Kemajuan (1932). 
Selain bergiat dalam bidang penulisan, beliau juga pernah menjadi penterjemah berita dan juruhebah untuk pemerintahan Inggeris di Radio Malaya Singapura dan penterjemah bahasa Melayu di Mahkamah Kuala Lumpur. Beliau juga turut memikul tugas sebagai guru bahasa Melayu di School of Oriental and African Studies, University of London pada tahun 1949/50. Beliau turut memperoleh Ijazah Sarjana Muda Sastera dari universiti tersebut ketika berusia 52 tahun dan kemudian beliau kembali ke tanah air dan berkhidmat di UM Singapura.
Memandangkan sumbangannya yang luar biasa terhadap bahasa dan persuratan, pada tahun 196, beliau telah dianugerahkan oleh Kongres Bahasa dan Persuratan Melayu Ketiga suatu gelaran unik iaitu Pendeta Bahasa yang bermaksud ilmuan bahasa yang ulung. Pada tahun 1973, beliau mendapat anugerah Ijazah Doktor Persuratan Kehormat oleh UKM. Bersesuaian dengan kedudukannya sebagai pemikir bahasa, sastera dan kebudayaan Melayu, beliau merupakan pengasas Jabatan Pengajian Melayu di UM Singapura. Dari jabatan inilah kemudian tertegaknya Jabatan Pengajian Melayu, UM Kuala Lumpur yang kini berkembang menjadi Akademi Penyajian Melayu.
ZA’BA yang merupakan seorang tokoh terbilang dalam bidang persuratan telah meninggal pada 23 Oktober 1973 ketika berusia 78 tahun.

aminuddinbaki2
Aminuddin Baki : Tokoh Pendidik dan Pemikir Bangsanya
Aminuddin Baki telah diiktiraf sebagai perancang pendidik yang bijaksana dan berpandangan jauh di Asia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO). Beliau telah terlibat dalam penggubakan beberapa dasar pendidikan negara untuk menghasilkan satu sistem pendidikan kebangsaan di Tanah Melayu yang keluar daripada sistem pendidikan yang diasaskan oleh penjajah yang berat sebelah.
Beliau di lahirkan di Chemor, Perak pada tahun 1926 dan mendapat pendidikan awal di Sekolah Melayu Chemor sehingga darjah lima dan kemudiannya di Sekolah Anderson, Ipoh dari tahun 1936 hingga 1945. Seterusnya melanjutkan pelajaran di Raffles College, Singapura dan memerolehi Ijazah Sarjana Muda dalam bidang Sejarah. Kemudian beliau melanjutkan pelajaran di University of London dan dianugerahkan Postgraduate Certificate of Education.
Beliau telah bergerak cergas dalam kegiatan yang dianjurkan oleh pertubuhan pelajar Melayu di Semenanjung seperti Persatuan Penuntut-Penuntut Melayu Victoria Institution pada tahun 1945. Kecenderungan beliau menggerakkan pelajar Melayu supaya bersatu mendapatkan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan tinggi dilanjutkan ketika beliau menuntut di Singapura. Pada tahun 1950, Aminuddin Baki telah dipilih menjadi Yang Dipertua GPMS dimana beliau telah meniup semangat orang Melayu untuk memberikan perhatian yang serius kepada pendidikan.
Beliau juga dilantik menjadi pensyarah di Maktab Perguruan Sultan Idris (MPSI) setelah sekembalinya dari  melanjutkan pelajaran di London. Semasa menjadi pensyarah, beliau telah membuka fikiran penuntutnya untuk melihat peranan Islam dalam pembentukan tamadun dunia dan peri pentingnya memperoleh pengetahuan dengan banyak membaca. Selain itu, beliau turut memainkan peranan dalam perkembangan pendidikan Negara dengan penglibatannya dalam menyiapkan Penyata Razak (1955-1957) dan Laporan Rahman Talib (1960-1963). Penyata dan Laporan ini penting dalam pembinaan dasar pendidikan negara sehingga hari ini. Beliau turut terlibat dalam Jawatankuasa Perancangan Pelajaran Tinggi dan Pelajaran Aneka Jurusan.
Pada usia 30-an, beliau telah dilantik sebagai Ketua Penasihat Pelajaran (sekarang dikenali sebagai Ketua Pengarah Pelajaran) Persekutuan Tanah Melayu pada tahun 1961 hingga 1965. Kesimpulannya, kejayaan pendidikan tinggi kebangsaan pada hari ini antaranya disumbangkan oleh Aminuddin Baki. Perhatian dan perjuangannya kepada pendidika tinggi orang Melayu sangat dihargai. Penglibatannya dalam perancangan menyiapkan Penyata Razak dan Laporan Rahman Talib dan keaggotaannya dalam pelbagai bidang jawatankuasa yang lain memberikan pengalaman yang besar dan penting dalam melaksanakan tugasnya sebagai penasihat pelajaran. Jasanya yang besar kepada perkembangan dasar pendidikan negara telah diabadikan dalam pelbagai bentuk seperti penamaan sekolah, kolej dan institusi pendidikan.
 d16
Ungku Omar Bin Ungku Ahmad : Saintis yang Berjiwa Pendidik
Ungku Omar ialah pendidik dan saintis terkenal di Malaysia. Beliau sering menyatakan bahawa kemunduran orang Melayu di kawasan luar bandar ada hubung kait dengan tahap kesihatan yang  membimbangkan. Oleh hal yang demikian, beliau telah memberikan perhatian kepada peningkatan taraf kesihatan penduduk luar Bandar. Penglibatannya dalam bidang penyelidikan sains dan perubatan mendapat pengitirafan antarabangsa seperti World Health Organization (WHO) dan diterima sebagai ahli College of Pathologist, London dan ahli kehormat College of American Pathologist, Amerika Syarikat. Beliau juga ahli jawatankuasa Sains Kemasyarakatan UNESCO dan ahli Lembaga Penyelarasan Kerjasama Serantau dalam Perubatan Tropika (SEAMEC).
Dilahirkan di Johor Bahru, Johor pada tahun 1931 dan mendapat pendidikan di Sekolah Melayu Tangkak, Pontian dan Segamat, Johor. Beliau meneruskan pelajaran di Sekolah Inggeris di Keluang dan Maktab Melayu Kuala Kangsar. Seterusnya beliau memperolehi ijazah dalam bidang perubatan di UM Singapura pada tahun 1957. Kemudian beliau berkhidmat sebagai Pegawai Perubatan di Pusat Penyelidikan Perubatan Kuala Lumpur. Setelah itu, beliau meneruskan pelajaran dalam bidang Patologi dan memperolehi diploma dalam bidang tersebut daripada Royal College of Physicians London dan Royal College of Surgeon. Seterunya beliau melanjutkan pelajaran pada peringkat doktor falsafah dari University of London pada tahun 1965 dengan tesis bertajuk “Electrolytes in Isolated Human Leucocytes”.
Beliau telah menjadi Pengarah Institute of Medical Research (IMR) pada tahun 1965 dan turut menghasilakn sebuah jurnal antarabangsa yang terkenal iaitu Journal of Clinical Pathology. Beliau menggunakan pelbagai medium untuk mendidik masyarakat luar bandar tentang perlunya menjaga kesihatan seperti berceramah di radio sehingga dikenali sebagai “Doktor Radio”. Beliau telah memainkan peranan penting dalam penubuhan UKM yang menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar. Beliau telah memperjuangkan penggunaan bahasa Melayu dalam bidang perubatan di universiti khususnya di UKM. Selain itu, beliau turut menekankan penggunaan bahasa Melayu di falkuti sastera dan agama, sains, kedoktoran, kejuruteraan, pertanian dan ekonomi kerana ramai pelajar Melayu daripada sekolah kebangsaan tidak dapat melanjutkan pelajaran ke universiti kerana kuliah disampaikan dalam Bahasa Inggeris.
Beliau juga mengemukakan konsep universiti Islam di Malaysia dalam satu kertas kerja yang dibentangkan di Seminar Peradaban Islam se-Malaysia. Beliau mencadangkan bahasa Melayu , Arab dan Inggeris digunakan sebagai bahasa pengantar di universiti Islam yang dicadangkan. Selain mengajar bahasa Arab dan pengajian Islam, Universiti Islam Malaysia mengajarkan disiplin lain seperti perdagangan, kejuruteraan dan teknologi, undang-undang dan perubatan.
Jasanya yang besar dalam bidang pendidikan telah diabadikan bukan sahaja dengan anugerah bintang kebesaran tetapi juga namanya diabadikan di IPT seperti Politeknik Ungku Omar, Ipoh Perak yang merupakan politeknik yang tertua di Malaysia.

ungku_aziz
Ungku Abdul Aziz Bin Ungku Abdul Hamid : Pentadbir dan Pemikir Pendidikan Tinggi
Profesor Diraja Ungku Aziz ialah seorang tokoh akademik dan ekonomi yang sangat sukar disaingi apatah lagi ditandingi di negara ini. Beliau merupakan anak Melayu pertama yang dilantik memegang jawatan penting di UM iaitu Ketua Jabatan Ekonomi dan apabila jabatan itu dinaiktarafkan menjadi fakulti, beliau ialah orang pertama yang menjadi dekannya; professor Ekonomi dan naib canselor.
Ungku Aziz yang berdarah diraja dilahirkan pada 28 Januari 1922 di London, England. Beliau mendapat pendidikan awal di Johor Bahru kemudian meneruskan pengajian di Raffles College (1940-1941) dan mengambil mata pelajaran Ekonomi, Sejarah dan bahasa Inggeris. Beliau meneruskan pengajian di peringkat yang lebih tinggi  di Waseda University, Tokyo dengan mendapat Ijazah Doktor Ekonomi pada tahun 1964.
Beliau pernah berkhidmat sebagai pensyarah ekonomi di UM Singapura, Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka, pensyarah kanan dan Ketua Jabatan Ekonomi, UM Kuala Lumpur, Dekan Fakulti Satera UM, diikuti dengan Dekan Fakulti Ekonomi dan Pentadbiran UM. Seterusnya beliau dilantik sebagai naib canselor selama dua dekad bermula 1 Oktober 1968 hingga 22 Februari 1988,. Beliau dianugerahkan Profesor Diraja oleh Duli Yang Maha Mulia Seri Paduka Baginda Yang Dipertuan Agong pada 17 Jun 1978.
Sumbangan beliau yang pertama ialah penubuhan Akademi Islam. Berdasarkan kertas kerja yang dibuat Profesor Diraja Ungku Aziz, senat universiti dalam mesyuaratnya pada 29 Julai 1976 telah menubuhkan Lembaga Pengajian tentang Nilam Puri dengan Ungku Aziz sebagai pengerusinya. Tujuannya untuk menimbang penerapan Yayasan Pengajian Tinggi Islam Kelantan ke dalam UM. Hasil cadangan itu tertubuhnlah Akademi Islam UM. Kedua, penubuhan Institut Pengajian Tinggi pada tahun 1979 dengan menekankan kepada projek HAWA, Projek Pengajian Tinggi dan Pekerjaan. Dan pengajaran Kursus Sarjana Falsafah : Falsafah Penyedlidikan. Seterusnya penubuhan Pusat Asasi Sains pada tahun 1977 atas kesedaran beliau akan kekurangan pelajar peribumi dalam fakulti sains di UM. Keempat pula ialah penubuhan Pusat Bahasa UM pada 3 Mac 1972 sebagai sebuah organisasi perkhidmatan bahasa dan bertanggunjawab dalam menjalankan kursus bahasa yang sesuai dengan kehendak fakulti dan pusat-pusat lain di UM.
Ungku Aziz telah diberikan ijazah kehormat oleh beberapa universiti, antaranya Doctor of Humane Letters, University of Pittsburgh (1971); Doctor of Education, Chulalongkorn University, Bangkok (1977); Doctors of Laws, Waseda University, Tokyo(1982); Ijazah Kehormat Doktor Ekonomi, UKM (1986); Doctor of Laws, University of Buckingham (1987); professor Emeritus, UM (1988); Ijazah Kehormat Doktor Ekonomi, UM. Beliau turut mendapat pengiktirafan oleh kerajaan seperti Ordre des Arts et Des Lettres oleh Kerajaan Perancis (1965); Anugerah Yayasan Tun Abdul Razak (1978); Japan Foundation Award (1981); Soka Education Award (1987); International Academic Prize of the 4 Fukuoka Asian Cultural Prizes (1993); Anugerah Melayu Terbilang oleh Datuk Seri Abdullah Haji Ahmad Badawi (2005) dan Anugerah Tuanku Syed Putra (2007).

Sabtu, 27 Agustus 2011

Active Learning

Berdasarkan buku Active Learning (Melvin L. Silberman: 2009) yang dinamakan belajar yang aktif itu ialah yang setidaknya harus dapat melibatkan dan memperhatikan lima faktor utama yaitu: pengolahan kerja otak, gaya belajar, sosial proses belajar, kehawatiran tentang belajar aktif dan perlengkapan belajar aktif (sarana prasarana).

Dari uraian diatas dapat kita ketahui bahwa dalam uapaya menumbuhkan atau menciptakan belajar aktif itu ialah banyak hal yang perlu kita perhatikan dan persiapkan. dalam buku ini sangat detail dipaparkan mengenai langkah-langkah upaya untuk menciptakan suasana yang benar-benar tercipta belajar aktif, mulai dari tata letak menyusun kelas, cara agar mendapatkan partisipasi dari siswa (objek), cara agar mendapatkan mitra belajar, cara bagaimana agar dapat mengetahui harapan siswa, cara mengefektifkan siswa, strategi membuat kelompok, cara menyeleksi ketua, mempasilitasi ketika diskusi, seni peran, penghematan waktu penanganan jika keadaan sulit diatur atau terjadi suasana yang gaduh (ribut).

Jadi dapat disimpulkan aktif learnig itu ialah upaya menciptakan gaya dan pola belajar mengajar atau pola pembelajaran yang dapat melibatkan interaksi yang tidak haya searah antara murid dan siswa namun dapat terjalin secara keseluruhan dan guru tidak lagi sebagai yang mentransper ilmu melainkan sebagai kawan (pengarah) kegiatan pembelajaran tersebut. sehingga siswa tidak akan haya duduk tetapi bisa aktif dengan mau bertanya, mencari, mengomentari, bahkan menjelaskan menurut apa yang telah dia ketahui dan pahami.



B. Komponen-Komponen (Syarat) Active Learning

Sebagaimana telah diketahui pada bahasan awal bahwa kegiatan belajar aktif itu ialah yang banyak melibatkan elemen lain yang senantiasa akan membantu terciptanya suasana belajar yang nyaman, aktif, kondusif sehingga teraarah.

Dari banyak faktor yang senantiasa mesti terlibat dalam pembelajaran agar tercipta belajar yang aktif, kurang lebih secara ringkasnya ternagi:

a. Individu siswa (sebagai objek) pembelajaran,

Dalam hal ini individu seorang murid itu merupakan hal yang paling dasar, sehinga harus benar-benar memiliki motovasi belajar yang kuat untuk ingin dan semangat belajar karena apapun dan sebesar bagaimanapun perhatian (pengaruh) dari luar jika tida didasari dengan semangat dari dalam dirinya siswa itu sendiri maka pembelajaran tidak akan aktif dan jauh kemungkinan tujuan pembelajaran dapat tercapai. Dalam hal ini faktor keluarga yang membverikan pelajaran utama sebelum di sekolah dan yang mencetak kearah mana diarahkanya seorang anak harus benar-benar fahan dan mampu memberikan arahan, bimbingan, dan melayani akan kemauan sang anaknya tersebut.

b. Guru sebagai dalang (sutra dara)

Guru sebagai dalang atau dapat dikatakan sutradara dalam pembelajaran aktif harus dapat menyajikan pelaksanaan proses pembelajaran sebagus dan semenarik mungkin, sehingga seorang guru harus benar-benar propesional dibidangnya itu baik secara kualifikasi mapun secara profesi dimana didalamnya harus faham mengenai psikologi anak, psikologi pendidikan, administrasi pendidikan, dan segala hal yang berkaitan dengan profesional seorang guru diantaranya harus mengetahui, metode, strategi, penbekatan, teknik dan taktik, dan yang lainya.

c. Proses (suasana) belajar

Proses atau suasana belajar ini berkaitan dengan kemampuan guru menguasai sussana dan memahami keadaan kelas ataupun kondisi murid itu sendiri agar dapat memilah dan memilih metode, media, taktik dan gaya belajay yang memang cocok dengan sussana atau kondisi tersebut. setelahnya faham mengenai hal itu, guru juga harus bisa menjalankannya dengan baik dan menyenakangkan mulai dari awal sampai bhelajar berakhir.

d. Sarana dan prasarana belajar

Dalam menciptakan kegiatan belajar yang aktif disini diutamakan sarana penunjang untuk kelancaran dan keefektipan belar tercapai, maka sega sesuatu yang memang dibutuhkan haruslah tersedia baik itu yang sifatnya indor ataupun out dor. Namun, jika masalahnya hal tersebut sebagai media yang dibutuhkan tidak ada maka disinilah dibutuhkan akan kekreatifan seorang guru agar dapat mengemas psembelajaran supaya tetap berjalan dengan kondusif dan aktif.



C. Waktu Pelaksanaan Active Learning

Kalau ditanya kapan pembelajaran aktif tersebut harus diciptakan? jawabanya ialah ketika terjadi suasan belajar atau ketika pembelajaran tidak aktif (statis) atau juga bisa disebut ketika kegiatan pembelajaran yang pasif.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa yang dinamakan kegiatan belajar atau pombelajaran dimanapun dan kapanpun itu idealnya mesti tercipta suasana belajar yang aktif terutama siswa sebagai objek dari pembelajaran tersebut. Namun, memang hal itu sangat sulit karena kebanyakan yang terjadi banyak guru yang kurang mampu menciptakan suasana yang aktif tersebut, sehingga pembelajaran itu berjalan monoton atau bahkan menurun. Kalau dilihat secara tahapan atau urutannya perlu dijaga agar senantiasa aktif itu ialah:

a) Sejak dimulai belajar,

Seorang guru diusahakan dapat merangsang siswa agar dapat aktif sejak awal. Mengapa demikian? karena jika sudah aktif sejak awal akan lebih mempermudah penyampaian materi selanjutnya akan terarah dengan baik dan memberikan warna semangat dalam mengikuti pembelajaran tersebut.

Dalam bukunya Active Learning ini Melvin L. Silberman menjelaskan secara detail langkah-langkah dalam menciptakan suasana belajar siswa aktif sejak awal dimana secara garis besarnya terdiri dari tiga yaitu:

Ø Strategi pembentukan tim,

Ø Strategi penilaian sederhana, dan

Ø Strategi pelibatan belajar langsung.

Dimana ketiga langkah tadi memiliki cara-cara atau langkah-langkah masing-masing.

b) Ketika sedang berjalan (proses/tengah) waktu belajar

Sangat perlu sekali bagi seorang guru untuk dapat mengupayakan agar dapat merangsang siswa (anak didiknya) guna mendapatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap secara aktif dengan metode dan strategi yang bagaimanapun selagi dapat membantu lancarnya proses belajar dan pembelajaran.

Dalam upaya mewujudkan hal ini, setidaknya ada delapan lagkah yang mesti diperhatikan yaitu:

1. Kegiatan belajar dalam satu kelas penuh,

2. Mengstimulasi diskusi kelas,

3. Pengajuan pertanyaan,

4. Belajar bersama,

5. Pengajaran sesame siswa,

6. Belajar secara sendiri,

7. Belajar yang efektif, dan

8. Pengembangan keterampilan.

Kedelapan langkah tadi memiliki langkah-langkah lain yang sifatnya lebih teknisi dan detail sebagai penjelasan dari kedelapan langkah tadi diatas.

c) Akhir dari pembelajaran,

Adapun yang dimaksud dengan belajar harus aktif pada akhir ialah bagaimana seorang guru mampu mengstimulus dan memberikan trik-trik agar apa yang telah disampaikan atau telah mereka pelajari itu tidak menjadi lupa kembali atau terlupakan oleh siswa tersebut.

Dalam kaitan dengan masalah ini, untuk dapat mempertahankan agar selalu teringat oleh siswa, Melvin L. Silberman membagi kedalam empat tahapan. Yaitu:

ü Strategi peninjauan kembali,

ü Penilaian sendiri,

ü Perencanaan masa depan, dan

ü Ucapan perpisahan.



D. Macam-Macam Active Learning

Sebagaimana yang terdapat dalam bukunya Melvin L. Silberman, dia mengemukakan bahwasanya ada 101 cara atau metode dalam mengupayakan pembelajaran atau siswa belajar dengan aktif. Namun, jika dikelompokan sesuai dengan isi dalam buku ini terbagi menjadi 15 yaitu:

1) Strategi pembentukan tim,

2) Strategi penilaian sederhana,

3) Strategi pelibatan langsung,

4) Kegiatan belajar dalam satu kelas penuh,

5) Mengstimulasi diskusi kelas,

6) Pengajuan pertanyaan

7) Belajar bersama,

8) Pengajaran sesame siswa,

9) Be;lajar secara mandiri,

10) Belajar yang efektif,

11) Pengembangan keterampilan,

12) Strategi peninjauan kembali,

13) Penilaian sendiri,

14) Perencanaan masa depan,

15) Ucapan perpisahan.



E. Tujuan Active Learning

Tujuan dari cara belajar siswa aktif (Active Learning) ialah agar dapat menjadikan siswa aktif dan kondusif ketika belajar, terwujudnya suasana belajar yang dinamis, efektif, evesien serta jauh dari suasana yang menjenuhkan dan membosankan.

Jika dilihat dari pemaparan Melvin L. Silbermen, dalam bukunya ini, menjelaskan tujuan Active Learning kurang lebih sebagai berikut:

Ø Menjadikan siswa aktif sejak awal (mulainya pembelajaran)

Ø Membantu siswa mendapatkan pengajaran, keterampilan, dan sikap secara aktif

Ø Mempertahankan agar belajar tidak terlupakan.

Selain dari itu juga, dengan memodivikasi ungkapan konfusius, dia menjelaskan tujuan dari active learning ialah agar dapat mengingat, memahami, terampil dan menguasai.



F. Cara Menumbuhkan Active Learning

Jika dilihat dari tulisan yang terdapat dalam buku ini, pada dasarnya untuk menjadikan siswa aktif itu ialah siswa harus banyak mengerjakan tugas. Maka agar tecapai hal itu, ialah dengan banyak memberikan banyak tugas terhadap siswa. Lebih luasnya semua yang terdapat dalam isi buku ini yaitu ada 101 cara atau trik-trik agar dapat menumbuhkan belajar siswa yang aktif.

G. Kesimpulan

Dari makalah ini mengguar isi buku Active Learning karya Melvin L. Silbermen dapat disimpulkan bahwa Active Learning merupakan pola pembelajaran yang harus dapat melibatkan secara kolektif antara kerja otak siswa, gaya belajar, sosial belajar dan sarana pendukung belajar yang akan membantu pada terbentuknya pola belajar yang aktif (Dinamis). Dalam buku ini dijelaskan bahwasanya terdapat 101 metode agar dapat menciptakan cara belajar siswa aktif.

Dalam buku ini juga dijelaskan bahwasanya belajar siswa yang aktif itu ialah yang bukan hanya sesaat namun sejak dimulai, sedang berlangsung dan juga ketika akhir dari pembelajaran. Dengan arahan memulai dengan semangat, ketika berlangsung berjalan dengan nyaman dan tertanam hasilnya sampai berakhir dari kegiatan belajar tersebut.

Motivasi dalam Belajar

Dalam dunia pendidikan, terutama dalam kegiatan belajar, seperti yang sudah saya bahas dalam tulisan terdahulu, bahwa kelangsungan dan keberhasilan proses belajar mengajar bukan hanya dipengaruhi oleh faktor intelektual saja, melainkan juga oleh faktor-faktor nonintelektual lain yang tidak kalah penting dalam menentukan hasil belajar seseorang, salah satunya adalah kemampuan seseorang siswa untuk memotivasi dirinya. Mengutip pendapat Daniel Goleman (2004: 44), kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan, sedangkan 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan lain, diantaranya adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati (mood), berempati serta kemampuan bekerja sama.

Motivasi sangat penting artinya dalam kegiatan belajar, sebab adanya motivasi mendorong semangat belajar dan sebaliknya kurang adanya motivasi akan melemahkan semangat belajar. Motivasi merupakan syarat mutlak dalam belajar; seorang siswa yang belajar tanpa motivasi (atau kurang motivasi) tidak akan berhasil dengan maksimal.

Motivasi memegang peranan yang amat penting dalam belajar, Maslow (1945) dengan teori kebutuhannya, menggambarkan hubungan hirarkhis dan berbagai kebutuhan, di ranah kebutuhan pertama merupakan dasar untuk timbul kebutuhan berikutnya. Jika kebutuhan pertama telah terpuaskan, barulah manusia mulai ada keinginan untuk memuaskan kebutuhan yang selanjutnya. Pada kondisi tertentu akan timbul kebutuhan yang tumpang tindih, contohnya adalah orang ingin makan bukan karena lapar tetapi karena ada kebutuhan lain yang mendorongnya. Jika suatu kebutuhan telah terpenuhi atau perpuaskan, itu tidak berarti bahwa kebutuhan tesebut tidak akan muncul lagi untuk selamanya, tetapi kepuasan itu hanya untuk sementara waktu saja. Manusia yang dikuasai oleh kebutuhan yang tidak terpuaskan akan termotivasi untuk melakukan kegiatan guna memuaskan kebutuhan tersebut (Maslow, 1954).

Dalam implikasinya pada dunia belajar, siswa atau pelajar yang lapar tidak akan termotivasi secara penuh dalam belajar. Setelah kebutuhan yang bersifat fisik terpenuhi, maka meningkat pada kebutuhan tingkat berikutnya adalah rasa aman. Sebagai contoh adalah seorang siswa yang merasa terancam atau dikucilkan baik oleh siswa lain mapun gurunya, maka ia tidak akan termotivasi dengan baik dalam belajar. Ada kebutuhan yang disebut harga diri, yaitu kebutuhan untuk merasa dipentingkan dan dihargai. Seseorang siswa yang telah terpenuhi kebutuhan harga dirinya, maka dia akan percaya diri, merasa berharga, marasa kuat, merasa mampu/bisa, merasa berguna dalam didupnya. Kebutuhan yang paling utama atau tertinggi yaitu jika seluruh kebutuhan secara individu terpenuhi maka akan merasa bebas untuk menampilkan seluruh potensinya secara penuh. Dasarnya untuk mengaktualisasikan sendiri meliputi kebutuhan menjadi tahu, mengerti untuk memuaskan aspek-aspek kognitif yang paling mendasar.

Guru sebagai seorang pendidik harus tahu apa yang diinginkan oleh para sisiwanya. Seperti kebutuhan untuk berprestasi, karena setiap siswa memiliki kebutuhan untuk berprestasi yang berbeda satu sama lainnya. Tidak sedikit siswa yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah, mereka cenderung takut gagal dan tidak mau menanggung resiko dalam mencapai prestasi belajar yang tinggi. Meskipun banyak juga siswa yang memiliki motivasi untuk berprestasi yang tinggi. Siswa memiliki motivasi berprestasi tinggi kalau keinginan untuk sukses benar-benar berasal dari dalam diri sendiri. Siswa akan bekerja keras baik dalam diri sendiri maupun dalam bersaing dengan siswa lain.

Siswa yang datang ke sekolah memiliki berbagai pemahaman tentang dirinya sendiri secara keseluruhan dan pemahaman tentang kemampuan mereka sendiri khususnya. Mereka mempunyai gambaran tertentu tentang dirinya sebagai manusia dan tentang kemampuan dalam menghadapi lingkungan. Ini merupakan cap atau label yang dimiliki siswa tentang dirinya dan kemungkinannya tidak dapat dilihat oleh guru namun sangat mempengaruhi kegiatan belajar siswa. Gambaran itu mulai terbentuk melalui interaksi dengan orang lain, yaitu keluarga dan teman sebaya maupun orang dewasa lainnya, dan hal ini mempengaruhi prestasi belajarnya di sekolah.

Berdasarkan pandangan di atas dapat diambil pengertian bahwa siswa datang ke sekolah dengan gambaran tentang dirinya yang sudah terbentuk. Meskipun demikian adanya, guru tetap dapat mempengaruhi mapun membentuk gambarang siswa tentang dirinya itu, dengan tujuan agar tercapai gambarang tentang masing-masing siswa yang lebih positif. Apabila seorang guru suka mengkritik, mencela, atau bahkan merendahkan kemampuan siswa, maka siswa akn cenderung menilai diri mereka sebagai seorang yang tidak mampu berprestasi dalam belajar. Hal ini berlaku terutama bagi anak-anak TK atau SD yang masih sangat muda. Akibatnya minat belajar menjadi turun. Sebaliknya jika guru memberikan penhargaan, bersikap mendukung dalam menilai prestasi siswa, maka lebih besar kemungkinan siswa-siswa akan menilai dirinya sebagai orang yang mampu berprestasi. Penghargaan untuk berprestasi merupakan dorongan untuk memotivasi siswa untuk belajar. Dorongan intelektual adalah keinginan untuk mencapai suatu prestasi yang hebat, sedangkan dorongan untuk mencapai kesuksesan termasuk kebutuhan emosional, yaitu kebutuhan untuk berprestasi.

Mengutip pendapat Mc. Donald (Tabrani, 1992: 100), “motivation is energy change within the person characterized by affective arousal and anticipatory goal reaction.” Motivasi adalah sesuatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan. Dari perumusan yang dikemukakan Mc. Donald ini mengandung tiga unsur yang saling berkaitan, yaitu: 1) motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi, 2) motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan (affective arousal), 3) motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.

Dari uraian di atas jelas kiranya bahwa motivasi bertalian erat dengan suatu tujuan. Makin berharga tujuan itu bagi yang bersangkutan, makin kuat pula motivasinya. Jadi motivasi itu sangat berguna bagi tindakan atau perbuatan seseorang. Penjelasan mengenai fungsi-fungsi motivasi adalah:

1. Mendorong manusia untuk bertindak/berbuat. Motivasi berfungsi sebagai pengerak atau motor yang memberikan energi/kekuatan kepada seseorang untuk melakukan sesuatu.
2. Menentukan arah perbuatan. Yakni ke arah perwujudan tujuan atau cita-cita. Motivasi mencegah penyelewengan dari jalan yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan. Makin jelas tujuan itu, makin jelas pula jalan yang harus ditempuh.
3. Menyeleksi perbuatan. Artinya menentukan perbuatan-perbuatan mana yang harus dilakukan, yang serasi, guna mencapai tujuan itu dengan menyampingkan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan. (Ngalim Purwanto, 2002: 71)

Jenis-jenis motivasi1. Motivasi intrinsik, yang timbul dari dalam diri individu, misalnya keinginan untuk mendapat keterampilan tertentu, memperolah informasi dan pengertian, mengembangkan sikap untuk berhasil, menyenangi kehidupan, keinginan diterima oleh orang lain.
2. Motivasi ekstrinsik, yang timbul akibat adanya pengaruh dari luar individu. Sperti hadiah, pujian, ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian orang mau melakukan sesuatu. (Tabrani, 1992: 120)

Lalu bagaimanakan cara untuk meningkatkan motivasi siswa agar mereka memiliki motivasi berprestasi yang tinggi, khususnya bagi mereka yang memiliki motivasi rendah dalam berprestasi. Ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh guru untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, sebagai berikut:

1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. Pada permulaan belajar mengajar hendaknya seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus (TIK) yang akan dicapai siswa. Tidak cukup sampai di situ saja, tapi guru juga bisa memberikan penjelasan tentang pentingnya ilmu yang akan sangat berguna bagi masa depan seseorang, baik dengan norma agama maupun sosial. Makin jelas tujuan, maka makin besar pula motivasi dalam belajar.

2. Hadiah. Berikan hadian untuk siswa-siwa yang berprestasi. Hal ini akan sangat memacu siswa untuk lebih giat dalam berprestasi, dan bagi siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk mengejar atau bahkan mengungguli siswa yang telah berprestasi. Hadiah di sini tidak perlu harus yang besar dan mahal, tapi bisa menimbulkan rasa senag pada murid, sebab merasa dihargai karena prestasinya. Kecuali pada setiap akhir semester, guru bisa memberikan hadiah yang lebih istimewa (seperti buku bacaan) bagi siswa ranking 1-3.

3. Saingan/kompetisi. Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.

4. Pujian. Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun. Bisa dimulai dari hal yang paling kecil seperti, “beri tepuk tangan bagi si Budi…”, “kerja yang bagus…”, “wah itu kamu bisa…”.

5. Hukuman. Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. Hukuman di sini hendaknya yang mendidik, seperti menghafal, mengerjakan soal, ataupun membuat rangkuaman. Hendaknya jangan yang bersifat fisik, seperti menyapu kelas, berdiri di depan kelas, atau lari memutari halaman sekolah. Karena ini jelas akan menganggu psikis siswa.

6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar. Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik, khususnya bagi mereka yang secara prestasi tertinggal oleh siswa lainnya. Di sini guru dituntut untuk bisa lebih jeli terhadap kondisi anak didiknya. Ingat ini bukan hanya tugas guru bimbingan konseling (BK) saja, tapi merupakan kewajiban setiap guru, sebagai orang yang telah dipercaya orang tua siswa untuk mendidik anak mereka.

7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik. Ajarkan kepada siswa cara belajar yang baik, entah itu ketika siswa belajar sendiri maupun secara kelompok. Dengan cara ini siswa diharapkan untuk lebih termotivasi dalam mengulan-ulang pelajaran ataupun menambah pemahaman dengan buku-buku yang mendukung.

8. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok. Ini bisa dilakukan seperti pada nomor 6.

9. Menggunakan metode yang bervariasi. Guru hendaknya memilih metode belajar yang tepat dan berfariasi, yang bisa membangkitkan semangat siswa, yang tidak membuat siswa merasa jenuh, dan yang tak kalah penting adalah bisa menampung semua kepentingan siswa. Sperti Cooperative Learning, Contectual Teaching & Learning (CTL), Quantum Teaching, PAKEM, mapun yang lainnya. Karena siswa memiliki tingkat intelegensi yang berbeda-beda satu sama lainnya. Ada siswa yang hanya butuh 5 menit untuk memahami suatu materi, tapi ada siswa yang membutuhkan 25 menit baru ia bisa mencerna materi. Itu contoh mudahnya. Semakin banyak metode mengajar yang dikuasai oleh seorang guru, maka ia akan semakin berhasil meningkatkan motivasi belajar siswa.

10. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran. Baik itu media visual maupun audio visual.

Sumber Bacaan:
Goleman, Daniel, Emitional Intelligence Kecerdasan Emosional Mengapa EQ Lebih Penting Daripada IQ, Jakata: PT Gramedia Pustaka Utama, 2004.
Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2002.
Tabrani Rusyan, Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001.

Mengenal Kecerdasan Kita


Apa Kecerdasan Itu?
Kecerdasan dapat kita pahami sebagai kemampuan sesorang untuk melakukan sesuatu. Kemampuan manusia seringkali hanya diukur dari segi kognitif semata, yaitu hal-hal yang dapat diukur dengan angka.

Contoh mudahnya adalah bagaimana ketika anak-anak menerima buku rapor. Banyak orang yang mengambil kesimpulan bahwa anak tersbut cerdas, bilamana nilai-nilanya sangat membanggakan. Begitu juga sebaliknya. Atau lebih sempit lagi, pada usia dini kecerdasan hanya diukur dari kelancaran baca-tulis, kelancaran berbicara dan berhitung.

Kecerdasan atau kemampuan manusia sebenarnya sangat beragam. Dan secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:

1. Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient)
2. Kecersanan Emosional (Emotional Quotient)
3. Kecerdasan Intelektual (Intellectual Quotient)

Mengapa selama ini hanya kecerdasan intelektual saja yang dibangga-banggakan oleh masyarakat dan diri kita?

Apakah kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual itu tidak peting?
Lalu apa sebenarnya kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual itu?

Kecerdasan Spiritual (SQ)
Merupakan kemampuan kita untuk berahlak mulia dan mengenal siapa diri kita dan Tuhan kita. Jadi SQ bukan hanya kemampuan menjalankan shalat atau membaca Al-Qur’an semata, tapi bagaimana semua ibadah yang kita laksanakan dapat dimaknai dan diaplikasikan dalam kehidupan kita, artinya bagaimana perilaku kita adalah merupakan cerminan dari ibadah yang telah kita laksanakan. Sehingga kita menjadi manusia yang dicintai oleh Tuhan dan mahluk-Nya.

Kecerdasan Emosional (EQ)
Adalam kemampuan kita untuk dapat mempengaruhi dan diterima orang lain dengan baik. Kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, kesanggupan untuk mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, untuk membaca perasaan terdalam orang lain (empati) dan berdoa, untuk memelihara hubungan dengan sebaik-baiknya, kemampuan untuk menyelesaikan konflik, serta untuk memimpin diri dan lingkungan sekitarnya.

Selama ini EQ kurang diajarkan pada anak-anak, sehingga kemampuan anak untuk mencinta dan dicinta oleh sesama menjadi kendala dalam bergaul dan berteman. Dan kesulitan dalam bermasyarakat berawal dari kurangnya kecerdasan emosional kita.

Kecerdasan Intelektua (IQ)
Ialah kemampuan kita untuk mengolah dan berfikir kognitif. Kecerdasan yang terukur dengan angka-angka sejak kita di bangku sekolah hingga kuliah, adalah kecerdasan intelektual. Kecerdasan inilah merupakan kemampuan yang diolah pada otak sebelah kiri kita. Bagaimana dengan otak sebelah kanan?

Mansusia siapapun dia, adalah manluk yang diciptakan Tuhan dan telah mengikat perjanjian dengan-Nya, bahwa dia adalah mahluk-Nya. Pada saat ruh ditiupkan oleh Sang Pencipta, manusia dibekali dengan sifat-sifat yang mulia untuk bekal hidupnya. Sifat-sifat yang ditiupkan Tuhan itulah fitrah yang dibawa lahir di dunia. Jadi ketika manusia telah menjadi janin dan lahir di dunia ini dia telah memiliki fitrah yang suci, fitrah dari Tuhannya.

Oleh karena itulah fitrah manusia harus selalu dijaga agar tidak terkotori dan teracuni oleh sifat-sifat syaitan yang sering kita sebut dengan nafsu manusia. Yaitu: dengki, sombong, dusta, malas, berlebihan dan lain sebagainya. Namun kita sering menyebutnya itu adalah manusiawi. Sebenarnya hal-hal tersebut adalah sifat-sifat syaitan yang dikirim syaitan sejak manusia lahir ke muka bumi ini.

Mana Yang Harus Didahulukan?
Untuk menjaga fitrah, maka perlu dilakukan pengenalan kembali tentang siapa Tuhannya, bagaimana kita sebagai mahluk Tuhan harus menjalankan hidup di dunia ini, bagaimana agar kita dicinta oleh Tuhan. Itulah kecerdasan spiritual.

Dengan mengenal siapa Tuhannya dan bagaimana agar dicintai Tuhan serta mahluk-Nya. Maka karakter ini perlu dibentuk atau ditanamkan terlebih dahulu sebelum kita mendapatkan kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual. Dengan itu insyaallah, kita akan tahu bahwa kecerdasan yang kita miliki adalah untuk menjalankan perintah-Nya. Bukan untuk hal-hal yang akan membawa bahaya bagi diri kita, orang lain dan mahluk lainnya yang ada di sekitar kita. Bagaimana menurut Anda?

Daftar Bacaan:
Daniel Golman, Kecerdasan Emosional, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2004.
Maurice J. Elias, Steven E. Tobias, Brian S. Friendlander, Cara-cara Efektif Mengasuh Anak Dengan EQ, Bandung: Kaifa, 2000.
www.fedus.org.

Metode Pembelajaran Efektif

Belajar atau pembelajaran adalah merupakan sebuah kegiatan yang wajib kita lakukan dan kita berikan kepada anak-anak kita. Karena ia merupakan kunci sukses unutk menggapai masa depan yang cerah, mempersiapkan generasi bangsa dengan wawasan ilmu pengetahuan yang tinggi. Yang pada akhirnya akan berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Melihat peran yang begitu vital, maka menerapkan metode yang efektif dan efisien adalah sebuah keharusan. Dengan harapan proses belajar mengajar akan berjalan menyenakngkan dan tidak membosankan. Di bawah ini adalah beberapa metode pembelajaran efektif, yang mungkin bisa kita persiapkan.


Metode Debat
Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra. Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang. Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan. Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru.
Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.
Pada dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas. Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.

Metode Role Playing
Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan. Kelebihan metode Role Playing:
Melibatkan seluruh siswa dapat berpartisipasi mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerjasama.
1. Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
2. Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
3. Guru dapat mengevaluasi pemahaman tiap siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.
4. Permainan merupakan pengalaman belajar yang menyenangkan bagi anak.

Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.
Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:
1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
2. Berpikir dan bertindak kreatif.
3. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
4. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.
Kelemahan metode problem solving sebagai berikut:
1. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
2. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.

Pembelajaran Berdasarkan Masalah
Problem Based Instruction (PBI) memusatkan pada masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa, peran guru menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog.
Langkah-langkah:
1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran. Menjelaskan logistik yang dibutuhkan. Memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
2. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
3. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan masalah.
4. Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.
5. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.
Kelebihan:
1. Siswa dilibatkan pada kegiatan belajar sehingga pengetahuannya benar-benar diserapnya dengan baik.
2. Dilatih untuk dapat bekerjasama dengan siswa lain.
3. Dapat memperoleh dari berbagai sumber.
Kekurangan:
1. Untuk siswa yang malas tujuan dari metode tersebut tidak dapat tercapai.
2. Membutuhkan banyak waktu dan dana.
3. Tidak semua mata pelajaran dapat diterapkan dengan metode ini

Cooperative Script
Skrip kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari.
Langkah-langkah:
1. Guru membagi siswa untuk berpasangan.
2. Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas.
6. Kesimpulan guru.
7. Penutup.
Kelebihan:
• Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan.
• Setiap siswa mendapat peran.
• Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan.
Kekurangan:
• Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu
• Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut).

Picture and Picture
Picture and Picture adalah suatu metode belajar yang menggunakan gambar dan dipasangkan / diurutkan menjadi urutan logis.
Langkah-langkah:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai.
2. Menyajikan materi sebagai pengantar.
3. Guru menunjukkan / memperlihatkan gambar-gambar yang berkaitan dengan materi.
4. Guru menunjuk / memanggil siswa secara bergantian memasang / mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
5. Guru menanyakan alas an / dasar pemikiran urutan gambar tersebut.
6. Dari alasan / urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep / materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai.
7. Kesimpulan / rangkuman.
Kebaikan:
1. Guru lebih mengetahui kemampuan masing-masing siswa.
2. Melatih berpikir logis dan sistematis.
Kekurangan:Memakan banyak waktu. Banyak siswa yang pasif.

Numbered Heads Together
Numbered Heads Together adalah suatu metode belajar dimana setiap siswa diberi nomor kemudian dibuat suatu kelompok kemudian secara acak guru memanggil nomor dari siswa.
Langkah-langkah:
1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok mendapat nomor.
2. Guru memberikan tugas dan masing-masing kelompok mengerjakannya.
3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap anggota kelompok dapat mengerjakannya.
4. Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka.
5. Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.
6. Kesimpulan.
Kelebihan:
• Setiap siswa menjadi siap semua.
• Dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh.
• Siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai.
Kelemahan:
• Kemungkinan nomor yang dipanggil, dipanggil lagi oleh guru.
• Tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru

Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation)
Metode investigasi kelompok sering dipandang sebagai metode yang paling kompleks dan paling sulit untuk dilaksanakan dalam pembelajaran kooperatif. Metode ini melibatkan siswa sejak perencanaan, baik dalam menentukan topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi. Metode ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang baik dalam berkomunikasi maupun dalam ketrampilan proses kelompok (group process skills). Para guru yang menggunakan metode investigasi kelompok umumnya membagi kelas menjadi beberapa kelompok yang beranggotakan 5 hingga 6 siswa dengan karakteristik yang heterogen. Pembagian kelompok dapat juga didasarkan atas kesenangan berteman atau kesamaan minat terhadap suatu topik tertentu. Para siswa memilih topik yang ingin dipelajari, mengikuti investigasi mendalam terhadap berbagai subtopik yang telah dipilih, kemudian menyiapkan dan menyajikan suatu laporan di depan kelas secara keseluruhan. Adapun deskripsi mengenai langkah-langkah metode investigasi kelompok dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Seleksi topik
Parasiswa memilih berbagai subtopik dalam suatu wilayah masalah umum yang biasanya digambarkan lebih dahulu oleh guru. Para siswa selanjutnya diorganisasikan menjadi kelompok-kelompok yang berorientasi pada tugas (task oriented groups) yang beranggotakan 2 hingga 6 orang. Komposisi kelompok heterogen baik dalam jenis kelamin, etnik maupun kemampuan akademik.
b. Merencanakan kerjasama
Parasiswa beserta guru merencanakan berbagai prosedur belajar khusus, tugas dan tujuan umum yang konsisten dengan berbagai topik dan subtopik yang telah dipilih dari langkah a) di atas.
c. Implementasi
Parasiswa melaksanakan rencana yang telah dirumuskan pada langkah b). Pembelajaran harus melibatkan berbagai aktivitas dan ketrampilan dengan variasi yang luas dan mendorong para siswa untuk menggunakan berbagai sumber baik yang terdapat di dalam maupun di luar sekolah. Guru secara terus-menerus mengikuti kemajuan tiap kelompok dan memberikan bantuan jika diperlukan.
d. Analisis dan sintesis
Parasiswa menganalisis dan mensintesis berbagai informasi yang diperoleh pada langkah c) dan merencanakan agar dapat diringkaskan dalam suatu penyajian yang menarik di depan kelas.
e. Penyajian hasil akhir
Semua kelompok menyajikan suatu presentasi yang menarik dari berbagai topik yang telah dipelajari agar semua siswa dalam kelas saling terlibat dan mencapai suatu perspektif yang luas mengenai topik tersebut. Presentasi kelompok dikoordinir oleh guru.
f. Evaluasi
Guru beserta siswa melakukan evaluasi mengenai kontribusi tiap kelompok terhadap pekerjaan kelas sebagai suatu keseluruhan. Evaluasi dapat mencakup tiap siswa secara individu atau kelompok, atau keduanya.

Metode Jigsaw
Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil. Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari yang terdiri dari dua atau tiga orang.
Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya; b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya. Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa. Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru. Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan.

Metode Team Games Tournament (TGT)
Pembelajaran kooperatif model TGT adalah salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya dan mengandung unsur permainan dan reinforcement.
Aktivitas belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran kooperatif model TGT memungkinkan siswa dapat belajar lebih rileks disamping menumbuhkan tanggung jawab, kerjasama, persaingan sehat dan keterlibatan belajar.
Ada5 komponen utama dalam komponen utama dalam TGT yaitu:
1. Penyajian kelas
Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dalam penyajian kelas, biasanya dilakukan dengan pengajaran langsung atau dengan ceramah, diskusi yang dipimpin guru. Pada saat penyajian kelas ini siswa harus benar-benar memperhatikan dan memahami materi yang disampaikan guru, karena akan membantu siswa bekerja lebih baik pada saat kerja kelompok dan pada saat game karena skor game akan menentukan skor kelompok.
2. Kelompok (team)
Kelompok biasanya terdiri dari 4 sampai 5 orang siswa yang anggotanya heterogen dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin dan ras atau etnik. Fungsi kelompok adalah untuk lebih mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus untuk mempersiapkan anggota kelompok agar bekerja dengan baik dan optimal pada saat game.
3. Game
Game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
4. Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
5. Team recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau lebih, “Great Team” apabila rata-rata mencapai 40-45 dan “Good Team” apabila rata-ratanya 30-40

Model Student Teams – Achievement Divisions (STAD)
Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan anggota lain sampai mengerti.
Langkah-langkah:
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll.).
2. Guru menyajikan pelajaran.
3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
4. Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
5. Memberi evaluasi.
6. Penutup.
Kelebihan:
1. Seluruh siswa menjadi lebih siap.
2. Melatih kerjasama dengan baik.
Kekurangan:
1. Anggota kelompok semua mengalami kesulitan.
2. Membedakan siswa.

Model Examples Non Examples
Examples Non Examples adalah metode belajar yang menggunakan contoh-contoh. Contoh-contoh dapat dari kasus / gambar yang relevan dengan KD.
Langkah-langkah:
1. Guru mempersiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran.
2. Guru menempelkan gambar di papan atau ditayangkan lewat OHP.
3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan kepada siswa untuk memperhatikan / menganalisa gambar.
4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa gambar tersebut dicatat pada kertas.
5. Tiap kelompok diberi kesempatan membacakan hasil diskusinya.
6. Mulai dari komentar / hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan materi sesuai tujuan yang ingin dicapai.
7. KKesimpulan.
Kebaikan:
1. Siswa lebih kritis dalam menganalisa gambar.
2. Siswa mengetahui aplikasi dari materi berupa contoh gambar.
3. Siswa diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya.
Kekurangan:
1. Tidak semua materi dapat disajikan dalam bentuk gambar.
2. Memakan waktu yang lama.

Model Lesson Study
Lesson Study adalah suatu metode yang dikembangkan di Jepang yang dalam bahasa Jepangnya disebut Jugyokenkyuu. Istilah lesson study sendiri diciptakan oleh Makoto Yoshida.
Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik mengajar mereka agar menjadi lebih efektif.
Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
1. Sejumlah guru bekerjasama dalam suatu kelompok. Kerjasama ini meliputi:
a. Perencanaan.
b. Praktek mengajar.
c. Observasi.
d. Refleksi/ kritikan terhadap pembelajaran.
2. Salah satu guru dalam kelompok tersebut melakukan tahap perencanaan yaitu membuat rencana pembelajaran yang matang dilengkapi dengan dasar-dasar teori yang menunjang.
3. Guru yang telah membuat rencana pembelajaran pada (2) kemudian mengajar di kelas sesungguhnya. Berarti tahap praktek mengajar terlaksana.
4. Guru-guru lain dalam kelompok tersebut mengamati proses pembelajaran sambil mencocokkan rencana pembelajaran yang telah dibuat. Berarti tahap observasi terlalui.
5. Semua guru dalam kelompok termasuk guru yang telah mengajar kemudian bersama-sama mendiskusikan pengamatan mereka terhadap pembelajaran yang telah berlangsung. Tahap ini merupakan tahap refleksi. Dalam tahap ini juga didiskusikan langkah-langkah perbaikan untuk pembelajaran berikutnya.
6. Hasil pada (5) selanjutnya diimplementasikan pada kelas/ pembelajaran berikutnya dan seterusnya kembali ke (2).
Adapun kelebihan metode lesson study sebagai berikut:
- Dapat diterapkan di setiap bidang mulai seni, bahasa, sampai matematika dan olahraga dan pada setiap tingkatan kelas.
- Dapat dilaksanakan antar/ lintas sekolah.